1.5 C
New York
Senin, Februari 26, 2024
spot_imgspot_img

Industri Jasa Keuangan Kepri Punya Kinerja Positif

Batam – Di tengah kinerja perekonomian nasional yang relatif stabil, kondisi Industri Jasa Keuangan (IJK) di Provinsi Kepulauan Riau sampai Oktober 2023. Stabil dengan mencatatkan pertumbuhan positif likuiditas yang memadai dan profil risiko yang terjaga. Pada posisi Oktober 2023, walaupun secara ytd pertumbuhan aset bank umum di Kepri tumbuh sebesar 16,83 persen.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Perwakilan Kepulauan Riau (Kepri) Rony Ukurta Barus, Jumat (29/12/2023) mengatakan, dengan pertumbuhan secara yoy tercatat tumbuh 23,49 persen menjadi Rp123,90 triliun (Oktober 2022: Rp100,33 triliun). Pertumbuhan aset bank umum di Kepulauan Riau melampaui pertumbuhan aset bank umum yoy secara nasional yaitu sebesar 4,91 persen. 

“Kinerja industri perbankan di Provinsi Kepri tetap terjaga dengan kinerja intermediasi yang positif. Begitu pula industri pasar modal yang tumbuh pesat dari sisi pertambahan investor,” kata Rony.

Sementara industri keuangan non-bank di Provinsi Kepri juga meningkat tercermin dari pertumbuhan pembiayaan. KOJK Provinsi Kepri juga terus melakukan sejumlah program kerja dan aktifitas untuk terus meningkatkan literasi dan inklusi keuangan serta pelindungan konsumen. 

“Disisi lain, penyaluran kredit bank umum di Kepri, posisi Oktober 2023 mengalami pertumbuhan sebesar 7,88 persen yoy menjadi Rp48,96 triliun (Oktober 2022: Rp45,39 triliun),” jelasnya.

Begitu juga dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mengalami pertumbuhan positif dengan tumbuh sebesar 15,66 persen yoy menjadi Rp84,65 triliun (Oktober 2022 sebesar Rp73,19 triliun). Pertumbuhan penyaluran kredit dan DPK di Kepulauan Riau posisi Oktober 2023 juga tumbuh di atas pertumbuhan nasional yang mencapai 8,99 persen dan 3,43 persen. 

“Aset BPR/S di Kepri, posisi Oktober 2023, tercatat tumbuh 19,13 persen menjadi Rp9,94 triliun (Oktober 2022: Rp8,35 triliun). Pertumbuhan aset BPR/S tersebut ditopang dari pertumbuhan kredit sebesar 21,10 persen, menjadi Rp7,45 triliun (Oktober 2022: Rp6,16 triliun) dan pertumbuhan DPK sebesar 29,49 persen menjadi Rp7,97 triliun (Oktober 2022: Rp6,69 triliun),” bebernya.

Namun demikian, dari tingkat risiko kredit, Non Performing Loan (NPL)  perbankan baik bank umum maupun BPR/S di Kepulauan Riau pada posisi Oktober 2023 masih berada dalam ambang batas. 

“Terkait hal tersebut, KOJK Kepri secara intensif akan melakukan pemantauan untuk memastikan perbaikan NPL/NPF BPR/BPRS di Kepri,” bebernya.

Disisi lain, industri Pasar Modal di Kepulauan Riau hingga Oktober 2023 mencatatkan pertumbuhan di mana jumlah investor tumbuh sebesar 17,48 persen yoy menjadi 120.162 investor. Persentase pertumbuhan investor terbesar tercatat di Kabupaten Kepulauan Anambas dengan peningkatan jumlah investor sebesar 20,88 persen menjadi 1.123 investor, diikuti Kabupaten Bintan meningkat 19,68 persen menjadi 6.216 investor dan Kabupaten Natuna meningkat 18,74 persen menjadi 2.351 investor.

“Adapun investor terbanyak berada di Kota Batam dengan jumlah 81.565 investor dengan tingkat pertumbuhan sebesar 17,71 persen,” ujarnya.

Kepemilikan saham oleh investor di Kepulauan Riau juga tercatat meningkat signifikan, di mana pada posisi Oktober 2023 tercatat sebesar Rp4,8 triliun, atau meningkat sebesar 69,44 persen yoy. Persentase pertumbuhan kepemilikan saham terbesar tercatat di Kabupaten Bintan dengan pertumbuhan sebesar 130,2 persen yoy menjadi Rp108,83 miliar, diikuti Kota Batam dengan pertumbuhan sebesar 79,48 persen yoy menjadi Rp4.151,58 miliar, dan Kabupaten Lingga dengan pertumbuhan sebesar 47,18 persen yoy menjadi Rp10,88 miliar.

“Hingga saat ini, terdapat lima perusahaan terbuka (emiten) yang berkantor pusat di Provinsi Kepulauan Riau yang sahamnya dapat dimiliki oleh masyarakat. Selain itu, terdapat 10 Perusahaan Efek dan satu Perusahaan Manajer Investasi yang berkantor cabang di Provinsi Kepulauan Riau. Sehingga, demi keamanan dana masyarakat, para calon investor diimbau untuk memastikan terlebih dahulu legalitas Perusahaan Efek atau Manajer Investasi sebelum membuka rekening efek atau reksadana,” urainya.

  • Perkembangan Industri Keuangan Non-Bank

Pada sektor IKNB, pendapatan premi asuransi jiwa periode Januari-Juni 2023 mencapai Rp634,93 miliar atau terkontraksi 7,34 persen yoy (Juni 2022: Rp685,22 miliar). Namun demikian, pendapatan premi asuransi umum masih tumbuh sebesar 20,21 persen yoy menjadi Rp330,16 miliar.  

“Di sisi lain, nilai outstanding piutang pembiayaan tumbuh secara signifikan sebesar 27,74 persen yoy pada Oktober 2023 menjadi sebesar Rp5,06 triliun, didukung oleh pertumbuhan pembiayaan multi guna dan pembiayaan investasi masing-masing sebesar 25,78 persen dan 47,84 persen,” bebernya.

Pertumbuhan piutang pembiayaan juga ditopang dengan profil risiko perusahaan pembiayaan yang masih terjaga bahkan mengalami perbaikan, dengan rasio Non Performing Financing (NPF) tercatat turun menjadi 0,77 persen (Oktober 2022: 1,94 persen).  

Kinerja fintech peer to peer (P2P) lending pada September 2023 masih mencatatkan pertumbuhan positif dengan outstanding pembiayaan tumbuh sebesar 21,20 persen yoy (September 2022: Rp405,39 miliar). Sementara itu, tingkat risiko kredit secara agregat (TWP 90) juga membaik, turun menjadi 1,87 persen (September 2022: 2,87 persen). 

“Pelaku usaha Pergadaian di Kepulauan Riau juga bertumbuh baik secara entitas, selama periode Triwulan IV 2022 sampai dengan triwulan III tahun 2023 terdapat penambahan 4 (empat) entitas, sehingga total perusahaan gadai di Kepulauan Riau tercatat menjadi 13 entitas (termasuk gadai persero dan gadai swasta),” ungkapnya.***

Related Articles

Stay Connected

142FansSuka
54PengikutMengikuti
28PelangganBerlangganan
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Articles