12.4 C
New York
Rabu, Oktober 5, 2022
spot_imgspot_img

BP-PT Bandara Internasional MoU 25 Tahun Kelola Hang Nadim untuk Hub Logistik Internasional

Batam – Badan Pengusahaan Batam (BP Batam) terus menggesa kesiapan Batam sebagai hub logistik internasional. Untuk itu, BP Batam melakukan MoU untuk masa pengelolaan Bandara Hang Nadim Batam, selama 25 tahun, dengan PT Bandara Internasional Batam sebagai Badan Usaha Pelaksana (BUP).

MoU dilakukan BP Batam dengan konsorsium perusahaan itu, Selasa (21/12/2021) di Batam. Penandatanganan kerja sama pengelolaan untuk desain, pembangunan, pembiayaan, pengalihan, pengoperasian, dan pemeliharaan Bandara Hang Nadim Batam. Sementara PT Bandara Internasional Batam dibentuk konsorsium PT Angkasa Pura I – Incheon International Airport Corporation (IIAC) – PT Wijaya Karya Tbk. (Persero) [WIKA] selaku pemenang lelang pengadaan Badan Usaha Pelaksana Proyek Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) Bandara Internasional Hang Nadim Batam.

Penandatanganan dilakukan oleh Kepala BP Batam Muhammad Rudi dengan Direktur Utama BUP PT Bandara Internasional Batam Pikri Ilham pada Selasa 21 Desember 2021. Penandatanganan disaksikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Airlangga Hartarto secara virtual, Wakil Kepala BP Batam dan seluruh Deputi BP Batam, Direktur Utama PT Angkasa Pura I Faik Fahmi, President and CEO IIAC Kyung-Wook Kim, dan Direktur Utama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. [WIKA] Agung Budi Waskito.

Penandatanganan ini dilakukan sebagai tindak lanjut atas pengumuman pemenang seleksi Pengadaaan Badan Usaha Pelaksana Proyek Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) Bandara Internasional Hang Nadim Batam, Maret 2021 lalu. Di mana Konsorsium AP I – IIAC – WIKA menjadi pemenang tender seleksi tersebut dan proses seleksi tersebut telah dilakukan secara terbuka sesuai regulasi yang berlaku dan menerapkan prinsip good corporate governance.

Sebelumnya, pada Juli 2021 lalu juga telah dilakukan penandatanganan awal atau Heads of Agreement kerja sama pengelolaan Bandara Hang Nadim Batam antara BP Batam dan Konsorsium AP I – IIAC – WIKA. Konsesi dilaksanakan dalam waktu 25 tahun dengan ruang lingkup meliputi renovasi, pengelolaan dan pemeliharaan terminal penumpang  existing.

Kemudian, pembangunan, pengelolaan, pemeliharaan terminal penumpang baru (terminal 2), pembangunan, pengelolaan, dan pemeliharaan infrastruktur sisi darat lainnya, infrastruktur sisi udara, dan pengelolaan terminal kargo baru.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto, PKS ini menandakan era baru dalam percepatan pengembangan Bandara Hang Nadim. “Diharapkan, kemudian hari akan menunjang perkembangan Batam Bintan Karimun hingga regional baik di Indonesia dan global dengan pasar Asia hingga Amerika,” kata Airlangga.

Disebut, KPBU Batam dengan investasi Rp6,9 Triliun dan kerjasama 25 tahun. Diharapkan dapat memberikan langsung multiplier effect secara pendapatan dan jangka panjang bagi pergerakan penumpang dan kargo.

“Peluang ini membuka lalu lintas penerbangan domestik dan internasional melalui  pasar Korea Selatan, Tiongkok, Bangkok dan negara sekitar. Termasuk mendukung perjalanan Haji Umroh serta mendorong Batam sebagai Logistic Aerocity dan dapat menurunkan biaya logistik sehingga lebih kompetitif,” katanya.
 
Sementara itu, Kepala BP Batam Muhammad Rudi berharap, KPBU Bandara Hang Nadim dapat mengelola bandara secara lebih profesional. Sehingga, dapat mendukung Batam sebagai hub logistic.

“Akan memberikan multiplier effect bagi sektor-sektor lain yang nantinya akan terakumulasi memacu daya saing Batam di kancah internasional, termasuk mendorong percepatan pemulihan ekonomi Batam dan Indonesia,” harapnya.

Lebih lanjut  ia berharap dengan adanya kerja sama ini terdapat manfaat ekonomi bagi Batam yakni  menarik investasi swasta asing maupun domestic untuk pengembangan Bandar Udara HN sebesar Rp. 6,9 Triliun. Meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Batam melalui pembukaan 11 rute internasional baru, efisiensi dalam hal pengelolaan pergerakan barang dan penumpang.

“Termaksud untuk transfer of konwledge dari IIAC, menumbuhkan industry, terbukanya lapangan kerja dan menggeliatkan ekonomi Batam, Kepulauan Riau,” sambung Rudi.

Terlebih, disebut posisi Bandara Hang Nadim yang sangat strategis berada di jalur lalu lintas internasional Selat Malaka dan Asia Tenggara. Serta berdampingan dengan pelabuhan kargo dan kawasan industri,  membuat Bandara Udara Hang Nadim diyakini dapat menjadi Hub Destinasi Penerbangan dan Logistik baik di wilayah domestik maupun internasional.

“Hal tersebut didukung kuat oleh peran IIAC (Incheon International Airport Corporation) dalam pengembangan Bandara Hang Nadim Batam,” imbuhnya.

Hal ini semakin menguatkan optimisme bahwa kolaborasi baru ini akan melesatkan Batam menjadi hub baru yang akan meningkatkan pasar industri aviasi Indonesia. Proyek ini juga akan menjadi bagian penting dari hubungan kerja sama kedua negara yang telah terjalin dengan apik antara pemerintah Indonesia dengan Korea Selatan.  

“Pengembangan Bandara Hang Nadim Batam sebagai hub kargo internasional dilakukan dengan upaya menarik trafik kargo dari Amerika dan Eropa agar dapat transit di Batam untuk kemudian melanjutkan penerbangan ke Australia. Selain itu, Bandara Hang Nadim Batam juga dapat menjadi alternatif transit bagi maskapai-maskapai nasional yang akan mengeksplorasi pengoperasian rute khusus kargo dari dan ke China, Jepang, India, Timur Tengah, tanpa harus ke Singapura,” jelas dia.

Sementara itu, untuk hub kargo domestik, peran Angkasa Pura I ditopang melalui anak perusahaan yaitu PT Angkasa Pura Logistik yang akan menjadikan Bandara Hang Nadim sebagai hub kargo untuk rute Sumatera, Jawa, dan wilayah timur Indonesia seperti Balikpapan, Makassar, dan lainnya.

Kolaborasi yang apik dari Konsorsium PT Angkasa Pura I, Incheon International Airport Corporation dan PT Wijaya Karya diyakini akan memiliki kekuatan mendorong pemasaran rute internasional, baik penumpang maupun kargo, dari Asia dan Eropa.

Kemudian, President and CEO Incheon International Airport Corporation (IIAC) Kyung-Wook Kim mengatakan, penandatanganan perjanjian kerja sama hari ini merupakan proyek kerja sama Pemerintah-Swasta jangka panjang pertama Korea di luar negeri. Oleh karena itu hal ini menandai tonggak penting dalam kerja sama masa depan antara Korea dan Indonesia di sektor penerbangan.

Diakui, Bandara Incheon hingga saat ini telah mengukuhkan posisinya sebagai bandara hub utama yang menghubungkan dua pasar penerbangan terbesar di dunia, Asia dan Amerika Utara.

”Partisipasi kami dalam proyek ini akan mendukung pengembangan kedua bandara di masa depan, menciptakan sinergi di berbagai bidang pembangunan dan pengoperasian bandara. Sinergi ini dapat dicapai dengan memanfaatkan jaringan penerbangan Bandara Incheon yang kuat di Asia Timur Laut dan Amerika dan menghubungkannya dengan Bandara domestik Batam rute untuk memperluas konektivitas,” katanya.

 Bandara Hang Nadim akan menjadi portofolio bandara di Indonesia yang juga akan melayani penumpang internasional dengan tujuan wisata. Melalui  salah satu strategi pemasaran K-Culture Marketing yang diusung  oleh IIAC maka Batam akan menjadi destinasi wisata baru yang akan mampu mendongkrak kedatangan wisawatan mancanegara.

Direktur Utama PT. Bandara Internasional Batam Pikri Ilham K. mengatakan dengan kolaborasi dan keahlian masing-masing anggota konsorsium akan memberikan nilai tambah dan kontribusi lebih terhadap perekonomian wilayah Batam dan sekitarnya.

“Sebagai badan usaha pelaksana perwakilan konsorsium Angkasa Pura I, kami berkomitmen untuk menjalankan strategi pengelolaan dan pengembangan Bandara Hang Nadim Batam sesuai yang telah ditetapkan pemimpin konsorsium, yaitu Angkasa Pura I yang didukung oleh anggota konsorsium yaitu Incheon International Airport Corporation dan Wijaya Karya,” ujar Direktur Utama PT Bandara Internasional Batam Pikri Ilham K.

Dalam pengelolaan Bandara Hang Nadim Batam, anggota Konsorsium Angkasa Pura I memiliki perannya masing-masing.  Sebagai pemimpin konsorsium, Angkasa Pura I akan bertanggung jawab dalam hal manajemen operasional dan komersial secara umum. Sementara itu, IIAC memiliki kewajiban dan tanggung jawab dalam hal pemasaran dan strategi pengembangan bandara secara umum. Sedangkan WIKA selaku BUMN bidang konstruksi yang terintegrasi dengan industri pendukungnya memiliki tanggung jawab dalam hal manajemen infrastruktur bandara.

Turut hadir dalam kegiatan, Duta Besar Republik Korea Selatan untuk Indonesia, yang diwakili oleh Konsuler Transportasi dan Infrastruktur, Mr. Kim Dongjin; Gubernur Kepri dalam hal ini diwakili oleh Asisten II Ekonomi Pembangunan Pemprov Kepri, Syamsul Bahrum; Direktur Utama PT Bandara Internasional Batam, Bapak Pikri Ilham Kurniansyah beserta jajaran; CEO of Incheon International Airport Corporation, Mr. Kim Kyung Wook; Direktur Utama PT Angkasa Pura I, Bapak Faik Fahmi dan jajarannya; Direktur Utama PT Wijaya Karya, Bapak Agung Budi Waskito bersama jajarannya; Wakil Kepala dan Para Anggota beserta seluruh jajaran BP Batam serta Pimpinan Kementerian/Lembaga juga FKPD Tk I dan II yang hadir secara langsung maupun virtual.

Related Articles

Stay Connected

137FansSuka
50PengikutMengikuti
28PelangganBerlangganan
spot_img

Latest Articles