BI Kepri Bedah Buku dan Gelar Lomba Literasi, Saat World Book Day 2026

oleh -20 Dilihat
oleh

Batam – Perpustakaan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Riau bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Kepri menggelar peringatan World Book Day 2026 yang berlangsung di Lantai 3 Kantor Perwakilan BI Kepri.

Kegiatan ini menjadi puncak dari rangkaian program literasi yang telah dilaksanakan sejak April 2026, sekaligus momentum untuk mengajak masyarakat kembali menumbuhkan minat baca di tengah tantangan era digital.

Acara tersebut turut diisi dengan kegiatan bedah buku bersama penulis inspiratif Sophie Navita, yang membahas karyanya berjudul “Hati yang Gembira Adalah Obat”.

Diskusi berlangsung hangat dan memberikan inspirasi kepada peserta tentang pentingnya membaca dan menulis sebagai bagian dari pengembangan diri.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Ardhienus saat ditemui KE Groups pada Kamis (4/6/2026) menegaskan bahwa, peringatan Hari Buku Sedunia yang diprakarsai oleh UNESCO sejak 1995 ini bertujuan untuk menghargai karya penulis serta mendorong budaya membaca sebagai fondasi utama pembangunan pendidikan.

“Literasi menjadi kunci penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul. Namun, tantangan kita saat ini adalah menurunnya minat baca, terutama di kalangan generasi muda yang lebih banyak teralihkan oleh penggunaan gawai,” ujarnya.

Ia menambahkan, kemudahan teknologi termasuk kecerdasan buatan (AI) tidak boleh menggeser kebiasaan membaca dan menulis. Menurutnya, kemampuan literasi tetap harus diasah sebagai dasar berpikir kritis dan kreatif.

Sebagai bentuk komitmen, Bank Indonesia Kepri telah menggelar berbagai kegiatan literasi, seperti lomba konten digital, lomba puisi, hingga podcast literasi yang melibatkan komunitas.

Program ini diharapkan mampu memperluas wawasan masyarakat serta menjadikan membaca sebagai kebiasaan berkelanjutan.

Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan Pemerintah Provinsi Kepri, Moh. Bisri, menyoroti masih rendahnya tingkat literasi masyarakat. Ia menyebutkan bahwa indeks pembangunan literasi masyarakat di Indonesia masih berada pada kategori rendah, yang menjadi pekerjaan rumah bersama.

“Perpustakaan sudah tersedia, buku juga banyak, tetapi minat membaca masih rendah. Ini menjadi tanggung jawab kita semua—keluarga, sekolah, hingga pemerintah—untuk membangun kembali kecintaan terhadap buku,” tegasnya.

Ia juga mendorong masyarakat untuk mulai membangun budaya membaca dari lingkungan terkecil, seperti menghadirkan pojok baca di rumah dan membiasakan anak-anak berinteraksi dengan buku sejak dini.

Melalui peringatan World Book Day 2026 ini, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya literasi semakin meningkat. Membaca bukan hanya sekadar aktivitas, tetapi investasi jangka panjang dalam membangun generasi yang cerdas, kritis, dan berdaya saing.

“Literasi adalah fondasi kemajuan bangsa. Dengan membaca, kita tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga melindungi diri dari berbagai bentuk manipulasi informasi,” pungkas Bisri.***