Turun ke Lumpur, Amsakar Tanam 2.000 Bibit Mangrove

oleh -88 Dilihat
oleh

BATAM – Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, turun langsung ke kawasan pesisir Tanjung Bemban, Nongsa, Sabtu (9/5/2026), untuk mengikuti aksi penanaman mangrove bersama mahasiswa Universitas Riau Kepulauan (UNRIKA).

Tak sekadar hadir secara simbolis, Amsakar ikut berjalan menyusuri lumpur pesisir sambil menanam bibit mangrove bersama para mahasiswa. Sebanyak 2.000 bibit mangrove jenis Rhizophora mucronata ditanam dalam kegiatan bertajuk “Save Mangrove, Save The World”.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya rehabilitasi kawasan pesisir Batam yang terus menghadapi tekanan pembangunan dan penyusutan kawasan mangrove.

Dalam kesempatan itu, Amsakar menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan di tengah pesatnya pertumbuhan Batam sebagai kota industri dan investasi.

Menurutnya, pembangunan tetap harus berjalan, namun kelestarian alam tidak boleh diabaikan karena menyangkut masa depan generasi berikutnya.

“Melindungi mangrove sama dengan menjaga masa depan. Pembangunan harus berjalan, tetapi lingkungan juga wajib dijaga agar tetap lestari,” ujarnya.

Ia menyebut keberadaan hutan mangrove memiliki fungsi penting bagi wilayah pesisir, mulai dari mencegah abrasi, menjaga habitat biota laut, hingga membantu menjaga keseimbangan ekosistem.

Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut meningkatkan kepedulian terhadap keberlangsungan hutan mangrove di Batam dan Kepulauan Riau.

Amsakar juga memberikan apresiasi kepada mahasiswa UNRIKA yang menggagas kegiatan tersebut. Menurutnya, keterlibatan kalangan kampus dalam isu lingkungan menunjukkan tumbuhnya kesadaran kolektif di kalangan generasi muda.

Ia menilai aksi seperti ini tidak boleh berhenti sebatas seremoni, tetapi harus menjadi gerakan berkelanjutan yang berdampak nyata bagi lingkungan.

“Mahasiswa harus menjadi agen perubahan. Ilmu yang diperoleh di kampus harus diwujudkan melalui aksi nyata di tengah masyarakat,” katanya.

Selain menjadi aksi penghijauan, kegiatan itu juga menjadi simbol kolaborasi antara pemerintah dan dunia akademik dalam menjaga kawasan pesisir Batam.

Data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut menunjukkan kondisi mangrove di Batam cukup memprihatinkan. Dari luas awal sekitar 11.760 hektare, kawasan mangrove yang tersisa kini diperkirakan hanya sekitar 1.700 hektare.

Kondisi itu dinilai perlu mendapat perhatian serius agar kerusakan kawasan pesisir tidak semakin meluas di masa mendatang.

Dengan pola tanam berjarak 1×4 meter, ribuan bibit mangrove yang ditanam diharapkan mampu membantu memulihkan kawasan pesisir Tanjung Bemban sekaligus memperkuat perlindungan alami pantai dari abrasi.

Di akhir kegiatan, Amsakar berharap gerakan menjaga mangrove dapat terus melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, kampus, komunitas hingga masyarakat umum.

“Kalau lingkungan terjaga, maka masa depan Batam juga akan tetap terjaga,” tutupnya.