HKI dan Rusia Tandatangani MoU Strategis, Wiraraja Gaet Investasi USD9,3 Juta

oleh -21 Dilihat
oleh

Rusia – Himpunan Kawasan Industri (HKI) Indonesia dalam INNOPROM 2026, melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Association of Clusters, Technology Parks and Special Economic Zones of Russia. Usai penandatanganan MoU, PT Wiraraja berhasil menggaet investasi Rusia USD9,3 Juta.

Penandatanganan MoU antara HKI dan Rusia, dilakukan di Ekaterinburg, Rusia, Senin (7/7/2026). PT Wiraraja Tangguh berhasil mengamankan investasi baru senilai USD9,3 juta atau sekitar Rp151 miliar untuk pembangunan proyek manufaktur turbin gas.

Investasi tersebut diperoleh PT Wiraraja Tangguh, pengelola Kawasan Industri Wiraraja, melalui penandatanganan kerja sama dengan perusahaan asal Rusia, BlackEnergy AI, dalam proyek setting-up manufacture project for gas turbine in Indonesia.

Penandatanganan disaksikan Duta Besar Indonesia untuk Rusia, Jose Antonio Morato Tavares, serta Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional Kementerian Perindustrian, Tri Supondy.

Proyek tersebut dijadwalkan mulai direalisasikan pada Agustus 2026 dengan estimasi penyerapan sekitar 200 tenaga kerja, sekaligus memperkuat posisi Batam sebagai salah satu tujuan investasi manufaktur berteknologi tinggi di Indonesia.

Pada kesempatan itu, Ketua Umum HKI, Akhmad Maruf Maulana memgatakan, berbagai keunggulan Indonesia sebagai tujuan investasi, semakin kompetitif. Selain Kawasan Industri Wiraraja, sejumlah kawasan industri nasional lainnya juga turut ambil bagian, yakni Kawasan Industri Bintan Inti, Kawasan Industri Kendal, dan Kawasan Industri Terpadu Batang.

Sementara terkait MoU HKI dengan Association of Clusters, Technology Parks and Special Economic Zones of Russia, Maruf mengatakan, kerja sama strategis tersebut menjadi langkah penting dalam memperkuat kolaborasi antara kawasan industri Indonesia dan Rusia.

Ruang lingkup kerja sama meliputi promosi investasi, pertukaran informasi mengenai peluang bisnis, pengembangan proyek industri bersama, peningkatan kapasitas pengelolaan kawasan industri, hingga fasilitasi investasi bagi perusahaan Rusia yang ingin berinvestasi di Indonesia maupun perusahaan Indonesia yang akan memperluas usahanya ke Rusia.

Penandatanganan MoU ini diharapkan membuka peluang investasi baru sekaligus mendorong peningkatan kerja sama industri yang saling menguntungkan di tengah dinamika ekonomi global. Melalui kemitraan tersebut, Indonesia semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri dan investasi di kawasan Asia Tenggara.

“Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang kuat untuk mendukung pertumbuhan investasi jangka panjang,” kata Maruf.

Menurutnya, stabilitas ekonomi nasional, besarnya pasar domestik, serta posisi geografis Indonesia yang strategis sebagai gerbang menuju kawasan ASEAN menjadi daya tarik utama bagi investor internasional. Selain itu, jaringan kawasan industri yang terus berkembang dengan dukungan infrastruktur dan utilitas yang semakin modern turut memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global.

“Indonesia menawarkan kombinasi yang sangat menarik bagi investor, mulai dari stabilitas ekonomi, pasar yang besar, hingga ekosistem kawasan industri yang terus berkembang dan semakin kompetitif,” beber Maruf.

Sementarq Menteri Perindustrian RI, Agus Gumiwang Kartasasmita, yang ikut pada kesempatan itu menegaskan, bahwa kehadiran Indonesia di INNOPROM merupakan langkah strategis untuk memperluas jejaring industri global.

“Partisipasi Indonesia di INNOPROM 2026 adalah langkah strategis untuk memperluas jejaring internasional, mendatangkan investasi, mendorong pengembangan industri, dan meningkatkan daya saing manufaktur kita,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional Kementerian Perindustrian, Tri Supondy, menegaskan bahwa keikutsertaan Indonesia dalam pameran industri terbesar di Rusia tersebut tidak hanya berorientasi pada transaksi perdagangan.

Menurutnya, pemerintah memanfaatkan INNOPROM sebagai sarana mempertemukan industri nasional dengan mitra potensial di Rusia dan kawasan Eurasia guna mendorong investasi industri, pengembangan produksi bersama, hingga transfer teknologi.

Masuknya investasi manufaktur turbin gas ke Batam dinilai menjadi sinyal positif bahwa promosi industri Indonesia di pasar internasional mulai menghasilkan proyek-proyek bernilai tambah tinggi.

Selain menghadirkan modal baru, investasi tersebut juga diharapkan memperkuat ekosistem manufaktur nasional, meningkatkan transfer teknologi, serta membuka lapangan kerja yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan daya saing industri Indonesia di pasar global.***