BI Kepri Bantu Pengembangan Pengolahan Tepung Sagu Panggak Laut Lingga

oleh -168 Dilihat
oleh

Lingga – Pendampingan Bank Indonesia (BI) Kepulauan Riau (Kepri) membantu BUMDes Karya Mandiri mengembangkan potensi sagu Panggak Laut di Desa Panggak Laut, Kecamatan Lingga, Kepulauan Riau. Dukungan itu tidak hanya berupa modal, tetapi juga peralatan produksi dan pendampingan usaha.

Dukungan tersebut perlahan mendorong usaha pengolahan sagu desa agar memiliki nilai tambah. Produk yang sebelumnya hanya berupa bahan mentah kini mulai diolah menjadi tepung sagu dan dipasarkan ke sejumlah daerah di Kepri.

Direktur BUMDes Karya Mandiri, Mawardi, mengatakan pendampingan Bank Indonesia menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan usaha tersebut. “Alhamdulillah, dukungan dari Bank Indonesia luar biasa. Kami sangat terbantu, terutama dari sisi permodalan. Tanpa dukungan ini, usaha kami mungkin belum bisa berjalan seperti sekarang,” ujar Mawardi, Selasa (11/8/2026).

BUMDes Karya Mandiri telah menjadi binaan Bank Indonesia selama kurang lebih tiga tahun. Selama masa pendampingan itu, BUMDes mulai memperkuat usaha pengolahan sagu. BI Kepri juga membantu menyediakan berbagai peralatan usaha. Bantuan itu mencakup peralatan produksi hingga pengemasan.

Menurut Mawardi, peralatan tersebut membantu BUMDes meningkatkan kualitas sekaligus kapasitas produksi. Saat ini, harga produk berada di kisaran Rp5.000 per kemasan.

“Selain modal, kami juga dibantu alat-alat, termasuk untuk packing. Ini sangat membantu kami meningkatkan kualitas produk,” katanya.

Dengan dukungan tersebut, BUMDes Karya Mandiri tidak lagi hanya mengandalkan penjualan bahan mentah. Pengelola mulai mengolah sagu menjadi produk yang lebih siap masuk pasar.

  • Dari Batang Sagu Menjadi Pati

Proses produksi bermula dari batang sagu yang baru dipotong. Pengelola tidak perlu menjemurnya terlebih dahulu. Mereka langsung membawa batang tersebut ke tempat pengolahan. Pengelola pabrik sagu di Panggak Laut, Sofyan, menjelaskan proses itu berlangsung melalui sejumlah tahapan.

Pertama, pekerja menata dan merakit batang sagu. Setelah itu, mereka menaikkan batang untuk mengupas bagian kulit luarnya. Selanjutnya, pekerja membelah batang menjadi beberapa bagian. Setelah itu, mereka memarut batang tersebut untuk mengambil serat sagu.

Serat kemudian dicampur dan dialiri air. Proses ini bertujuan memisahkan pati dari serat dan ampas batang. “Mulai olah dari awal, ke dalam belasan hari. Belasan hari kita bisa mengolah sagu,” ujar Sofyan.

Dalam proses tersebut, pengelola memanfaatkan air sungai di sekitar lokasi. Mereka menyedot air dan mengalirkannya ke rangkaian pengolahan.

Sofyan menyebut ampas atau serbuk batang sagu sebagai serampit. Bahan itu kemudian menjalani proses dengan bantuan air selama sekitar tujuh hingga delapan jam.

“Serampit namanya itu. Jadi serampit itu dikebul, sampai dari awal sekitar tujuh jam atau delapan jam,” katanya.

Air kemudian terus mengalir selama proses berlangsung. Semakin lama, air yang keluar dari proses pengolahan menjadi semakin jernih. Kondisi itu menjadi salah satu tanda bahwa pati sagu yang terkandung dalam serat sudah hampir habis.

“Air sungai sama air keluar ini sudah hampir sama. Itu sudah jernih. Jelasnya pati sagunya sudah tidak ada lagi,” ujar Sofyan.

Sementara itu, kapasitas pabrik mencapai 46 ton sagu. Namun, jumlah yang dikerjakan dalam satu proses berada di kisaran 11 ton atau kurang.

Setelah menghasilkan sagu mentah, BUMDes Karya Mandiri kembali melakukan sejumlah tahapan. Pengelola terlebih dahulu membersihkan bahan tersebut.

Selanjutnya, mereka mengeringkan sagu dengan bantuan sinar matahari. Karena itu, cuaca ikut menentukan lama proses produksi. Dalam kondisi normal, proses pengeringan membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua hari.

Setelah kering, pengelola memprosesnya menjadi tepung sagu. Mereka kemudian mengemas produk tersebut dalam ukuran 1 kilogram.***