UMKM Kain Tenun di Lingga Binaan BI Kepri, Kembangkan Pasar hingga Malaysia

oleh -107 Dilihat
oleh

Lingga – Pasar kain tenun asal Lingga, sudah berkembang, hingga negara tetangga, Malaysia. Kain tenun khas Melayu itu, dihasilkan pengrajin di Rumah Tenun Lingga dengan motif khas Melayu. Harga pasar kain itu mulai sekitar Rp2,8 juta, hingga Rp5 juta.

Salah satu produk kain dengan motif tampuk manggis dan melati. Kain tersebut dibanderol mulai sekitar Rp3,8 juta per helai, sementara untuk produk tertentu harganya dapat mencapai Rp5 juta.

Ketua Rumah Tenun Lingga, Isnawati menjelaskan, proses pembuatan kain membutuhkan ketelitian tinggi. Beberapa motif dikerjakan secara manual, termasuk proses pencapan atau pembuatan motif satu per satu.

“Kalau terlepuk itu sebenarnya teknik pembuatannya. Dic ap, dikepuk dan ditumpuk-tumpuk,” kata Isnawati saat ditemui di Rumah Tenun Lingga pada Selasa (11/8/2026).

Teknik tersebut menjadi salah satu kekhasan produk tenun yang dikembangkan para pengrajin. Tidak hanya mengejar nilai estetika, proses manual itu sekaligus menjadi upaya mempertahankan keterampilan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dukungan dari Bank Indonesia Perwakilan Kepulauan Riau (BI Kepri) kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan usaha tersebut. Rumah Tenun Lingga merupakan salah satu UMKM yang mendapatkan pembinaan dan dukungan peralatan dari BI Kepri.

Isnawati menyebut pihaknya memperoleh bantuan berupa lima alat tenun bukan mesin (ATBM). “Sebelumnya dari awal kami memang punya lima alat. Kemudian ada bantuan dari Bank Indonesia,” ujarnya.

Menurut Isnawati, bantuan tersebut memberikan dampak terhadap kapasitas produksi dan keberlangsungan usaha. Peralatan menjadi modal penting bagi pengrajin untuk terus memenuhi permintaan konsumen.

“Alhamdulillah, kalau untuk produksi sudah terbantu dengan adanya bantuan ini,” katanya.

Menariknya, pasar Rumah Tenun Lingga tidak hanya berasal dari dalam negeri.
Dalam beberapa tahun terakhir, produk songket yang dihasilkan para pengrajin mulai mendapat tempat di pasar Malaysia. Bahkan, permintaan dari negeri jiran tersebut disebut masih terus berjalan.

“Sudah banyak ke Malaysia. Kami banyak mendapat pesanan dari Malaysia,” ujar Isnawati.

Pesanan tersebut bahkan membuat para pengrajin harus bekerja untuk memenuhi produksi yang telah masuk. Untuk kebutuhan berikutnya, Rumah Tenun Lingga masih memiliki rencana produksi sekitar 20 lembar kain.

Kondisi itu menunjukkan bahwa kerajinan tenun dari daerah tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang mampu menembus pasar internasional.

Produk yang dikerjakan secara manual dengan waktu produksi yang tidak singkat justru menjadi nilai tambah tersendiri. Namun dibutuhkan minat generasi muda untuk terjun menjadi pengrajin.

“Yang bekerja itu belum ramai. Yang minat juga belum banyak,” ujarnya.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi keberlanjutan industri tenun di Lingga. Sebab, tanpa regenerasi pengrajin, kemampuan membuat kain dengan teknik tradisional berisiko semakin sulit ditemukan.

Karena itu, pembinaan UMKM tidak hanya dibutuhkan dalam bentuk bantuan peralatan, tetapi juga penguatan kapasitas sumber daya manusia, pemasaran, hingga perluasan akses pasar.

Bagi Rumah Tenun Lingga, dukungan BI Kepri menjadi salah satu pijakan untuk menjaga agar produksi tetap berjalan sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.

Apalagi, produk-produk tenun Lingga juga dipersiapkan untuk mengikuti ajang Karya Kreatif Indonesia (KKI) di Jakarta.

Momentum tersebut diharapkan dapat memperkenalkan produk tenun khas Lingga kepada pasar yang lebih luas.

Kain-kain itu pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang motif tampuk manggis, melati, songket maupun teknik terlepuk.
Di dalam setiap helainya terdapat cerita tentang perempuan-perempuan pengrajin, tradisi Melayu yang terus dijaga, serta harapan agar kerajinan lokal mampu tumbuh menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.***