Menuju Hub Logistic, Kapasitas Pelabuhan Petikemas Batu Ampar Disiapkan 1,6 Juta TEUS di 2029

oleh -20 Dilihat
oleh

Batam – Pelabuhan Petikemas Batuampar, Batam, kini disiapkan menjadi Internasional Transhipment Port (Hub Logistic). Ditargetkan, pada tahun 2029 mendatang, kapasitas pelabuhan Batuampar, mencapai 1,6 Juta TEUs. Dengan pendalaman alur laut, ditargetkan bisa mendatangkan kapal-kapal besar.

“Karena sudah dilakukan pendalaman alur dan nanti ditingkatkan kedalaman laut. Sekarang sudah 12 meter,” kata Direktur PT Batam Terminal Petikemas (BTP), Capt. Basori Alwi, Rabu (5/8/2026) di Batuampar, Batam.

Ia optimistis setelah pendalaman alur pelayaran dan pendalaman kolam pelabuhan selesai dilakukan, Batam akan mampu menerima kapal-kapal berukuran lebih besar sehingga menjadi alternatif hub selain Singapura dan Pelabuhan Tanjung Pelepas, Malaysia.

“Nanti kapal-kapal yang lebih besar bisa masuk sehingga Batam menjadi alternatif hub selain Singapura maupun Tanjung Pelepas,” ujarnya.

“Harapannya kapal-kapal yang sebelumnya sandar di Singapura bisa kita tarik ke Batam. Dengan begitu seluruh konektivitas ke Timur Tengah, Eropa, Australia hingga Amerika bisa langsung dilayani dari Batam,” katanya.

Basori menambahkan, perdagangan dunia yang semakin didominasi kawasan Asia, khususnya China, menjadi peluang besar bagi Batam untuk berkembang sebagai pusat logistik internasional.

Basori menjelaskan, target kapasitas 1,6 juta TEUs bukan semata-mata mengandalkan pertumbuhan volume ekspor-impor Batam saat ini. Dari total sekitar 900 ribu TEUs, sekitar 60 persen merupakan aktivitas ekspor-impor, sedangkan 30 hingga 40 persen merupakan kontainer domestik.

Untuk memenuhi target tersebut, BTP akan mengejar tambahan sekitar 1 juta TEUs melalui strategi transshipment atau perpindahan arus peti kemas internasional.

“Volume tambahan itu bukan berasal dari volume eksisting Batam. Kita harus mengambil pasar transshipment sekitar satu juta TEUs,” ujarnya.

Strategi tersebut dilakukan dengan menggandeng PT Batu Ampar Container Terminal (BACT) sebagai operator terminal serta bekerja sama dengan mainline shipping operator seperti SITC agar Batam menjadi pelabuhan hub internasional.

Ke depan, BTP berharap kapal-kapal besar milik perusahaan pelayaran dunia seperti CMA CGM, Maersk, dan Wan Hai dapat bersandar langsung di Batam, bukan lagi di Singapura.

BACT menargetkan peningkatan kapasitas terminal peti kemas hingga mencapai 1,6 juta TEUs per tahun sebagai bagian dari kewajiban dalam perjanjian konsesi selama 36 tahun.

Ia mengatakan target tersebut mengharuskan perusahaan melakukan pengembangan besar-besaran, baik dari sisi kawasan kerja maupun infrastruktur pendukung terminal.

“Kewajiban kami dalam masa perjanjian konsesi 36 tahun bersama BACT adalah mengembangkan terminal peti kemas hingga mencapai volume 1,6 juta TEUs per tahun. Itu berarti kami harus memperluas area kerja sekitar 30 hektare. Studi pengembangannya juga sudah kami lakukan,” ujar Basori.

Menurutnya, pada 2028 hingga 2029, terminal dengan kapasitas 1,6 juta TEUs ditargetkan sudah dapat beroperasi. Untuk mencapai target tersebut, pengembangan tidak hanya dilakukan pada infrastruktur pelabuhan, tetapi juga penambahan berbagai peralatan operasional.

BTP berencana menambah enam unit Ship to Shore (STS) Crane serta 20 unit alat pendukung operasional (RTG/alat bongkar muat) guna meningkatkan produktivitas pelayanan kapal dan peti kemas.

“Mudah-mudahan dengan dukungan semua pihak, pada 2029 atau 2030 nanti kapasitas terminal sudah mencapai target yang direncanakan,” katanya.

Ke depan, BTP menargetkan Terminal Petikemas Batu Ampar mampu menjadi pusat logistik yang terintegrasi dan mendukung pertumbuhan investasi, perdagangan, serta industri di Batam dan kawasan barat Indonesia.

“Kami ingin menjadikan Terminal Petikemas Batu Ampar sebagai terminal modern yang mampu bersaing secara global sekaligus memberikan pelayanan terbaik bagi pengguna jasa dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” imbuh Basori.

Diakui, pengembangan terminal dilakukan berdasarkan perjanjian konsesi yang diberikan BP Batam setelah memperoleh persetujuan dari Kementerian BUMN. Melalui skema tersebut, BTP mendapat amanah mengelola dan mengembangkan Terminal Petikemas Batu Ampar selama sekitar 37 tahun.

“Kami mendapat amanah untuk mengembangkan Terminal Petikemas Batu Ampar dengan cita-cita menjadi hub logistik Indonesia. Tujuannya bukan hanya membangun infrastruktur pelabuhan yang modern, tetapi juga meningkatkan efisiensi sistem logistik nasional,” ujar Basori.

Dalam menjalankan operasional sehari-hari, BTP menggandeng PT Batu Ampar Container Terminal (BACT) sebagai mitra strategis yang bertugas memberikan pelayanan kepada para pengguna jasa.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam upaya menghadirkan layanan pelabuhan yang lebih kompetitif. BACT dipilih karena memiliki pengalaman sebagai operator terminal petikemas berskala global dengan jaringan pengelolaan pelabuhan di berbagai negara.***