Indonesia – Singapura Perkuat Konektifitas Digital Lewat Kabel Bawah Laut Nongsa – Changi

oleh -134 Dilihat
oleh

BATAM – Batam memperkuat posisi sebagai pusat konektivitas digital Indonesia. Status Batam sebagai gerbang utama ekonomi digital Indonesia menuju Asia Tenggara, perkuat dengan peresmian Nongsa–Changi Cable (NCC), sistem kabel bawah laut yang menghubungkan Nongsa Digital Park, Batam, dengan Changi, Singapura, sepanjang sekitar 50 kilometer.

Jalur kabel bawah laut itu menjadi salah satu yang paling pendek dan paling efisien di Selat Singapura. Peresmian yang digelar, Senin (20/7/2026) di Nongsa Poin Marina (NPM) itu, sekaligus memperkuat posisi Batam sebagai gerbang utama ekonomi digital Indonesia menuju Asia Tenggara.

Peresmian yang dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Digital Singapura Gang Kim Yong, Direktur Utama PT Telkom Indonesia Dian Siswarini, Chairman Nongsa Digital Park Mike Wiluan, serta sejumlah pemangku kepentingan dari Indonesia dan Singapura. Langkah itu menjadi tonggak baru kerja sama strategis kedua negara dalam membangun ekosistem digital kawasan.

“Di era AI, komunikasi antara manusia dan mesin membutuhkan jaringan digital yang sangat cepat. Salah satu infrastruktur pentingnya adalah koneksi digital antara Changi dan Nongsa,” ujar Airlangga.

Airlangga Hartarto menegaskan, pembangunan Nongsa–Changi Cable bukan sekadar proyek telekomunikasi, melainkan fondasi koridor digital baru yang akan menopang pertumbuhan ekonomi digital Indonesia dalam jangka panjang. Menurutnya, setiap lompatan besar peradaban manusia selalu didorong oleh kemajuan teknologi, mulai dari revolusi industri, listrik, internet hingga kini memasuki era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

“Perkembangan tersebut membutuhkan infrastruktur digital yang cepat, stabil, dan berkapasitas besar,” tegasnya.

Dijelaskan, sistem kabel bawah laut tersebut mampu menghadirkan latensi yang sangat rendah sehingga pertukaran data dapat berlangsung hampir tanpa jeda. “Dengan kapasitas lebih dari 1,6 petabit per detik, NCC dipersiapkan untuk melayani kebutuhan cloud computing, hyperscale data center, AI, layanan digital lintas negara, hingga berbagai inovasi ekonomi berbasis data,” harapnya.

Airlangga optimistis kehadiran koridor digital tersebut akan mempercepat target pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen sebagaimana dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
“Pertumbuhan industri data center di Batam mencapai sekitar 22 persen per tahun, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Ini menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru Indonesia,” katanya.

Ia juga menyoroti semakin besarnya kepercayaan investor global terhadap Batam, ditandai dengan pembangunan pusat data BW Digital berkapasitas awal 120 megawatt yang akan berkembang hingga 450 megawatt, serta keputusan Oracle mengembangkan kawasan cloud di Batam.

Sementara Direktur Utama PT Telkom Indonesia, Dian Siswarini, menyebut keberhasilan pendaratan kabel bawah laut Nongsa–Changi merupakan hasil kolaborasi strategis Indonesia dan Singapura dalam membangun ekosistem digital yang semakin tangguh. Kabel bawah laut tersebut menghadirkan koridor digital berkapasitas tinggi dan latensi rendah yang mampu memenuhi kebutuhan teknologi masa depan, mulai dari AI, cloud computing, hyperscale hingga pusat data.

“Keberhasilan landing Nongsa Changi Cable merupakan refleksi dari komitmen bersama Indonesia dan Singapura untuk menghadirkan ekosistem digital yang lebih terkoneksi, resilien, dan siap menghadapi perkembangan teknologi di masa depan,” ujarnya.

Ia menilai keberadaan NCC tidak hanya meningkatkan kapasitas konektivitas internasional Indonesia, tetapi juga memperkuat daya saing ekonomi digital nasional melalui pertukaran data lintas negara yang lebih cepat dan aman.

“Pembangunan NCC merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam memperkuat infrastruktur digital nasional serta memperluas konektivitas internasional guna menjawab lonjakan kebutuhan ekonomi digital global,” bebernya optimis.

Chairman Nongsa Digital Park, Mike Wiluan, mengatakan pendaratan kabel bawah laut tersebut bukan hanya menghadirkan jaringan telekomunikasi baru, tetapi juga menjadi simbol kolaborasi Indonesia dan Singapura dalam membangun masa depan ekonomi digital kawasan.

“Ini bukan hanya tentang kabel yang datang ke pantai. Ini adalah koneksi antara Indonesia dan Singapura, antara infrastruktur dan berbagai peluang untuk mewujudkan masa depan digital,” ujarnya.

Mike menjelaskan, sejak awal Nongsa Digital Park dikembangkan sebagai ekosistem digital terpadu yang menggabungkan pusat data, cloud, AI, perusahaan teknologi global, hingga pengembangan talenta digital. “Dengan hadirnya NCC, daya saing kawasan tersebut dipastikan meningkat karena didukung konektivitas internasional yang jauh lebih andal,” kata Mike.

Ia meyakini penguatan ekosistem digital akan membawa dampak ekonomi yang luas bagi Batam melalui masuknya investasi baru, berkembangnya perusahaan teknologi, tumbuhnya startup digital, hingga terciptanya lapangan kerja berkualitas.

“Ke depan, Nongsa Digital Park juga akan mengembangkan Digital Campus yang menghubungkan dunia pendidikan dengan kebutuhan industri digital agar mampu menghasilkan talenta yang siap bersaing secara global,” tegasnta.

Sementara Menteri Digital Singapura, Gang Kim Yong, menilai pengoperasian Nongsa–Changi Cable menjadi tonggak penting dalam mempererat hubungan ekonomi digital Indonesia dan Singapura. Proyek tersebut sejalan dengan komitmen yang telah disepakati Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dalam Leaders’ Retreat Indonesia–Singapura untuk memperkuat kawasan Batam, Bintan, dan Karimun sebagai pusat ekonomi digital regional.

Dikatakan, dunia kini bergerak menuju ekonomi berbasis data sehingga kebutuhan akan konektivitas digital berkecepatan tinggi semakin penting. “Dalam kondisi global yang semakin tidak menentu, semakin penting bagi Singapura dan Indonesia untuk memperkuat kemitraan, memfasilitasi investasi, memperkuat rantai pasok, dan menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru,” katanya.

Gang Kim Yong menambahkan, Singapura memiliki keunggulan pada konektivitas global dan iklim investasi, sementara Indonesia memiliki potensi besar berupa talenta digital, ketersediaan lahan, serta peluang pengembangan energi terbarukan. Kombinasi kedua kekuatan tersebut diyakini akan menjadikan Batam sebagai pusat layanan digital yang mampu melayani pasar ASEAN hingga pasar global secara lebih efisien.

Nongsa–Changi Cable dibangun dengan dukungan 24 fiber pairs yang memungkinkan kapasitas data dalam jumlah sangat besar. Seluruh proses pembangunan dilakukan menggunakan teknologi dan kapal khusus dengan standar internasional untuk memastikan keandalan jaringan. Kolaborasi antara TELIN, BW Digital, Citramas, BP Batam, pemerintah Indonesia, pemerintah Singapura, serta berbagai mitra strategis menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur digital kini menjadi bagian penting dari strategi pertumbuhan ekonomi kawasan.

Lebih dari sekadar kabel bawah laut, NCC menjadi simbol kolaborasi lintas negara dalam membangun fondasi ekonomi digital masa depan. Kehadirannya diproyeksikan memperkuat posisi Batam sebagai hub digital Indonesia, menarik investasi pusat data, layanan cloud, AI, serta berbagai industri teknologi yang akan menjadi penggerak utama ekonomi nasional dan Asia Tenggara dalam dekade mendatang.***