BATAM – APKASI bersama IBA menggelar pertemuan tindak lanjut implementasi Pusat Promosi Investasi Daerah (PPID). Dimana, PPID sebagai pusat promosi investasi daerah hasil kolaborasi IBA dan APKASI yang berlokasi di Batam. Sekitar 50 bupati dan perwakilan kepala daerah hadir dalam dua sesi kegiatan ini.
Kegiatan PPID digelar selama dua hari, 15 dan 17 April 2026, di kantor PPID, Batam, Kepulauan Riau (Kepri). Dirancang sebagai “Mall Pelayanan Investasi”, PPID memungkinkan setiap kabupaten memajang profil daerah, potensi komoditas, dan peluang kerja sama secara langsung di satu tempat.

Dengan PPID, maka investor tidak perlu lagi berkeliling ke 514 kabupaten/kota di Indonesia, cukup datang ke Batam. Sebagian besar bupati yang hadir dalam kedua sesi telah mengamankan slot kantor perwakilan daerah di PPID sebagai langkah konkret tindak lanjut dari pertemuan ini.
“Investor dapat mengkaji dan menyaksikan sendiri potensi yang ditawarkan, mulai dari batubara, pertanian, hingga energi terbarukan, yang telah terklaster secara profesional.
Pada 15 April 2026, kegiatan dipimpin Ketua Umum APKASI, Bursah Zarnubi, bersama Chairman IBA, Shan Shan. Sesi kedua pada 17 April dilanjutkan oleh Wakil Ketua Umum APKASI, Delis Julkarson, bersama Chairman IBA, Shan Shan. Acara ini juga didukung dengan kehadiran perwakilan BTN, Direktur komersial Banking BTN, Hermita, serta Kepala Cabang BTN Batam, Indrasakti Agung Nugroho, yang menyatakan dukungan penuh kepada pemerintah daerah.

Ketua Umum APKASI, Bursah Zarnubi, menyampaikan bahwa PPID hadir sebagai solusi konkret atas hambatan yang selama ini dihadapi daerah dalam mempromosikan potensi mereka kepada investor global.
“Investasi adalah kunci percepatan pembangunan dan penciptaan lapangan kerja. PPID hadir sebagai etalase terintegrasi di mana keunggulan daerah dapat diakses dengan mudah oleh pembeli dan investor internasional sebelum mereka terjun langsung ke lapangan,” ujar Zarnubi.
Sementara Wakil Ketua Umum APKASI, Delis Julkarson menekankan, bahwa penurunan Transfer ke Daerah (TKD) mendorong daerah untuk lebih mandiri secara fiskal. Investasi melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) menjadi salah satu jalur yang ditawarkan, termasuk pemanfaatan lahan tidur untuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan kawasan komersial terpadu.
Direktur Eksekutif APKASI, Sarman Simanjorang, yang hadir dalam kedua sesi, menyoroti tiga persoalan klasik yang kerap dihadapi daerah. Diantaranya, minimnya basis data komoditas, lemahnya koneksi global, dan kurangnya tindak lanjut terhadap calon investor.
“Melalui PPID dan skema KPBU, ketiga hambatan ini ditangani secara sistematis,”bebernya.
Selama dua hari kegiatan, para bupati menyampaikan tantangan yang pada dasarnya serupa. Pembangunan daerah selama ini terkendala keterbatasan anggaran dan tidak adanya platform yang mempertemukan pemerintah daerah dengan investor secara langsung dan terstruktur, sehingga kebutuhan investor kerap tidak sepenuhnya dipahami oleh daerah. Pemerintah Daerah berharap ke depan pembangunan daerah dapat berjalan melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, swasta, dan investor.
Melalui keterlibatan IBA, daerah tidak hanya mendapat akses ke jaringan investor global, tetapi juga mulai memahami standar dan kebutuhan investor internasional, mendorong pengembangan komoditas unggulan yang lebih terstruktur dan kompetitif.
Chairman IBA, Shan Shan, menyampaikan bahwa IBA secara aktif menghadirkan investor dari Tiongkok dan Hong Kong untuk melakukan business matching langsung dengan para kepala daerah. “Kami tidak lagi bicara konsep, tapi eksekusi, dari data ke aksi nyata. PPID adalah pusat aktivitas di mana bupati bisa langsung melakukan business matching,” ujarnya.
Minat investor internasional terhadap forum ini tercermin dari kehadiran langsung dua investor asal Tiongkok, Tao Xuan Ming dan Raymond Lu, yang secara khusus terbang dari China ke Batam untuk menghadiri forum agar lebih mengerti potensi dan kebutuhan masing masing daerah.
Turut hadir pula Alex Chua Siong Kiat, pakar keuangan dari Singapura. Selain kehadiran secara langsung, sejumlah investor dari Hong Kong, Tiongkok, Taiwan, Singapura, dan Malaysia mengikuti jalannya acara secara daring.
Salah satunya, Lily Tsoi dari Hong Kong, mewakili Full Luck Investment Limited, perusahaan yang telah berinvestasi di Indonesia lebih dari 10 tahun di sejumlah sektor pertambangan di Kalimantan.
“Komoditas unggulan Indonesia seperti kopi dan coklat memiliki permintaan yang tinggi di pasar internasional,” ujar Lily.
BTN pada sesi kedua menyatakan kesiapan dalam memfasilitasi pembiayaan bagi pemerintah daerah. Direktur Commercial Banking BTN, Hermita, bersama Kepala Cabang BTN Batam, Indrasakti Agung Nugroho, memaparkan skema pinjaman yang dapat diakses daerah untuk mempercepat penyiapan infrastruktur pendukung investasi.***












