Batam – Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada triwulan ll 2026 menunjukkan pertumbuhan yang tetap kuat sebesar 6,99% (yoy). Namun, pertumbuhan itu melambat atau lebih rendah dibandingkan triwulan I 2026 sebesar 7,04% (yoy). Pertumbuhan ekonomi Kepri tercatat masih yang tertinggi di Sumatera.



Demikian disampaikan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepri, Ardhienus Ariansyah, Jumat (7/8/2026) di Batam. Dikatakan, berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), Capaian ini juga lebih baik dibanding pertumbuhan Sumatera sebesar 5,06% (yoy).
“Kinerja positif tersebut terutama ditopang oleh sektor industri pengolahan, konstruksi, pertambangan dan penggalian, serta perdagangan besar dan eceran secara berturut-turut tumbuh sebesar 6, 1 1 % (yoy), 6,06% (yoy), 9,26% (yoy), dan 10,58% (yoy) yang memberikan andil terhadap pertumbuhan ekonomi Kepri sebesar 2,55%, 1,14%, 0,97%, dan 0,89%,” katanya.
Dibeberkan, lapangan usaha (LU) Industri Pengolahan pada triwulan II 2026 tetap tumbuh tinggi dan menguat dari triwulan sebelumnya di tengah tingginya permintaan chipset untuk Electric Vehicle (EV) yang diproduksi di Indonesia. LU Konstruksi tumbuh tinggi dan terakselerasi sejalan dengan berlanjutnya pembangunan KEK dan KI serta masifnya pembangunan data center di Batam.
Selain itu, LU Pertambangan tumbuh positif namun terdeselerasi sejalan dengan normalisasi pasca tingginya kinerja LU Pertambangan pada triwulan | 2025 yang didorong penemuan sumur migas Forel dan Terubuk. LU Perdagangan juga tumbuh positif dan terakselerasi dibandingkan bulan sebelumnya didorong oleh peningkatan aktivitas kunjungan wisatawan pada periode liburan.
“Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Kepri pada triwulan II 2026 didorong oleh pertumbuhan positif pada Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 24,08% (yoy), dengan andil 10,02% PMTB masih kuat didukung oleh meningkatnya sejumlah investasi dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK, di Kepri, baik PMA maupun PMDN,” bebernya.
Sementara itu, konsumsi RT tercatat tumbuh sebesar 4,06% (yoy), dengan andil 1,58% sejalan dengan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang tercatat tetap optimis (indeks > 100) dengan rata-rata indeks pada triwulan 1 2026 sebesar 120,72. Konsumsi pemerintah turut tumbuh positif sebesar 15,83%(yoy) dengan andil 0,56% meskipun melambat dibanding triwulan sebelumnya sejalan dengan berlanjutnya realisasi program kerja pemerintah.
Selanjutnya, kinerja net ekspor terkontraksi 20,93% (yoy) dengan andil -3,04% seiring dengan gejolak geopolitik seperti penetapan tarif dan penutupan selat hormuz yang menghambat global supply chain. Adapun dilihat dari IHK (Indeks Harga Konsumen), Kepri pada bulan Juli 2026 tercatat mengalami inflas sebesar 4,24% (yoy).
Sedangkan secara bulanan, Kepri tercatat deflasi 0,23% (mtm) yang utamanya disebabkan oleh penurunan harga pada komoditas emas perhiasan, angkutan udara, cabai merah, kacang panjang, dan sawi hijau dengan andil masing-masing sebesar -0, 14%, -0, 11 %, -0,07%, -0,04%, dan -0,03%
“Kedepan, Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan melalui kebiiakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi dengan kebijakan pemerintah. Sehingga dapat menjaga stabilitas dengan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi di daerah,” harap Ardhienus.
Sementara itu, inflasi kedepan diprakirakan akan tetap terjaga dalam rentang sasaran inflasi melalui penguatan koordinasi dan sinerg dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang mencakup upaya Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) dalam kerangka 4K yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.***









