
Batam – Aktivitas Pelabuhan Kontainer Batuampar, Batam, kini terus meningkat. Dengan kapasitas pelabuhan yang naik menjadi 900 ribu TEUs per tahun, aktivitas bongkar muat petikemas saat ini, sudah capai 522 Ribu TEUs. Dimana dengan modernisasi alat, waktu bongkar muat juga berhasil dipangkas dari 20 jam, menjadi 7 jam.



“Sebelumnya, bongkar muat 20 jam, sekarang tinggal 7 jam. Sehingga biaya operasional turun,” kata Direktur PT Batam Terminal Petikemas, Capt. Basori Alwi, Rabu (5/8/2026) di Batuampar, Batam.
Saat ini pengelolaan Pelabuhan Petikemas Batuampar dilakukan PT Batam Terminal Petikemas (BTP) bersama PT Batu Ampar Container Terminal (BACT). Kerjasama kedua perusahaan ini mampu menurunkan waktu dan biaya bongkar muat.
Selain waktu, kapasitas bongkar muat kontainer juga ditingkatkan. Kapasitas terminal petikemas dinaikkan dari 350 ribu TEUs, menjadi 900 ribu. Sehingga, aktivitas bongkar muat juga naik siginifikan.
“Sekarang, dengan kapasitas 900ribu TEUs, aktivitas bongkar muat hingga saat ini sudah mencapai 522ribu TEUs,” bebernya.
Dengan peningkatan aktivitas di Pelabuhan Batuampar itu, maka fasilitas akan terus ditingkatkan. Termaksud dilakukan pengembangan pelabuhan.
Sejak 2024, BTP telah menghadirkan salah satu operator pelayaran utama di kawasan Asia, yakni SITC, sebagai langkah awal memperkuat jaringan pelayaran internasional.
Diungkapkan, BTP bersama Badan Pengusahaan (BP) Batam dan Bea Cukai memiliki komitmen untuk melakukan sentralisasi pelayanan peti kemas di Batu Ampar agar pengawasan menjadi lebih efektif.
“Kalau terminalnya tersebar di banyak tempat tentu pengawasannya lebih sulit. Dengan sentralisasi, pengawasan menjadi lebih mudah dan pelayanan juga lebih efisien,” jelasnya.
Dari sisi konektivitas internasional, saat ini Batam telah terhubung dengan 32 pelabuhan besar dunia. BTP juga terus memperluas jaringan pelayaran ke berbagai negara.
Selain rute yang sudah tersedia menuju India, BTP menargetkan pembukaan layanan langsung menuju Timur Tengah, termasuk Jeddah, kemudian ke kawasan Eropa, Afrika, Australia seperti Sydney dan Melbourne, hingga memperkuat konektivitas dengan Papua Nugini.
Untuk rute menuju Amerika Serikat, layanan sebenarnya telah tersedia, namun masih melalui proses transit karena belum ada kapal yang berlayar langsung dari Batam.
“Ke depan, setelah investasi tahap kedua dengan kapasitas 1,6 juta TEUs selesai, kami berharap Batam dapat terkoneksi langsung dengan seluruh kawasan dunia,” kata Basori.
Saat ini, kapasitas infrastruktur Terminal Petikemas Batu Ampar juga terus ditingkatkan. Saat ini terminal memiliki panjang dermaga sekitar 1.000 meter dengan kedalaman alur antara 8 hingga 12 meter LWS serta area penumpukan petikemas seluas sekitar 12 hektare.
Dari sisi peralatan, terminal kini didukung lima unit ship-to-shore crane (STS) atau quay crane dan 12 unit rubber tyred gantry (RTG). Sebagian besar peralatan tersebut merupakan hasil investasi lanjutan setelah kerja sama pengembangan antara BTP dan BACT.
Basori mengungkapkan, modernisasi infrastruktur mulai menunjukkan hasil positif. Sepanjang 2025, volume bongkar muat petikemas di Terminal Batu Ampar mencapai sekitar 522.000 TEUs, menjadi indikator meningkatnya aktivitas logistik di Batam.***










