Perkawinan Diatas Gelombang, Kisah Suku Laut di Kenduri Seni Melayu 2026

oleh -36 Dilihat
oleh

Batam – Kenduri Seni Melayu (KSM) 2026 yang akan digelar pada 2–5 Juli 2026 di Dataran Engku Putri, Batam Centre, akan menghadirkan berbagai karya seni terbaik dari daerah-daerah yang memiliki akar budaya Melayu yang kuat. Salah satu penampilan yang dinantikan adalah persembahan dari Pusat Latihan Seni (PLS) Sanggam Tanjungpinang melalui karya tari bertajuk “Perkawinan Ditas Gelombang.”

Sebagai salah satu sanggar seni terkemuka di Kepulauan Riau, PLS Sanggam dikenal konsisten melestarikan dan mengembangkan seni budaya Melayu melalui berbagai pertunjukan yang sarat makna. Sanggar yang dipimpin oleh Hoesnizar Hood, seniman dan budayawan Kepulauan Riau yang telah lama berkecimpung dalam dunia seni pertunjukan Melayu, akan membawa kisah kehidupan Suku Laut ke atas panggung Kenduri Seni Melayu tahun ini.

Melalui tari “Perkawinan di Atas Gelombang”, PLS Sanggam mengangkat cerita tentang kehidupan masyarakat Suku Laut yang menjadikan laut sebagai ruang hidup, sumber penghidupan, sekaligus bagian dari identitas budaya mereka. Karya ini menggambarkan nilai-nilai kebersamaan, cinta, kesetiaan, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam yang telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat pesisir Kepulauan Riau.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, mengatakan bahwa kehadiran PLS Sanggam menjadi bagian penting dalam memperkuat posisi Kenduri Seni Melayu sebagai panggung pelestarian budaya Melayu yang berakar dari kehidupan masyarakat.

“Budaya Melayu tidak dapat dipisahkan dari laut. Melalui karya seperti ‘Perkawinan di Atas Gelombang’, masyarakat diajak untuk memahami kembali nilai-nilai kehidupan yang tumbuh dari tradisi masyarakat pesisir dan menjadi bagian dari identitas Kepulauan Riau,” ujarnya.

Menurut Ardiwinata, karya-karya yang mengangkat kearifan lokal memiliki peran penting dalam memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada generasi muda maupun wisatawan yang hadir.

“Kenduri Seni Melayu bukan hanya ruang hiburan, tetapi juga media edukasi budaya. Setiap karya yang ditampilkan membawa cerita, nilai, dan sejarah yang patut dikenalkan kepada masyarakat luas,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Kota Batam, Samson Rambah Pasir, menilai PLS Sanggam sebagai salah satu kelompok seni yang memiliki rekam jejak kuat dalam menghadirkan karya-karya berbasis tradisi Melayu.

“PLS Sanggam selalu menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya indah secara artistik, tetapi juga kuat dari sisi pesan budaya. Melalui karya ini, mereka membawa kekayaan cerita masyarakat Suku Laut ke panggung yang lebih luas,” katanya.

Ia menambahkan bahwa keberagaman karya yang ditampilkan dalam Kenduri Seni Melayu menjadi bukti bahwa budaya Melayu memiliki banyak perspektif dan cerita yang terus hidup hingga saat ini.

“Setiap daerah memiliki kekhasan budaya masing-masing. Kehadiran PLS Sanggam memperkaya mozaik budaya Melayu yang ditampilkan dalam Kenduri Seni Melayu 2026,” ujarnya.

Dengan sentuhan artistik khas PLS Sanggam dan pengalaman panjang Hoesnizar Hood dalam dunia seni budaya Melayu, tari “Perkawinan di Atas Gelombang” diharapkan menjadi salah satu penampilan yang meninggalkan kesan mendalam bagi para penonton.

Melalui karya tersebut, masyarakat tidak hanya disuguhkan pertunjukan tari yang memukau, tetapi juga diajak menyelami kehidupan dan kearifan masyarakat Suku Laut yang telah menjadi bagian penting dari sejarah dan budaya maritim Kepulauan Riau..***