Batam – Kasus super flu, influenza A subclade K, terus terus meningkat di Amerika Serikat (AS). Tidak hanya di AS, kini kasus yang sudah merenggut ribuan nyawa itu, sudah masuk Indonesia, dengan terdeteksi sebanyak 62 kasus. Sementara di Amerika, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat mencatat hingga 20 Desember, sedikitnya 7,5 juta orang terinfeksi influenza.
Direktur Center for Infectious Disease Research and Policy, University of Minnesota, Dr. Michael Osterholm menilai, laju penyebaran saat ini membuat dampak musim flu tahun ini sulit diprediksi. “Musim flu sebenarnya baru dimulai, tetapi peningkatan kasusnya terjadi sangat cepat,” katanya

Dilaporkan, di AS sekitar 81.000 pasien harus menjalani perawatan di rumah sakit. Sementara lebih dari 3.100 orang meninggal dunia. Tidak hanya orang dewasa, setidaknya delapan anak dilaporkan meninggal.
AS melaporkan seluruh indikator pemantauan utama menunjukkan tren peningkatan, mulai dari hasil pemeriksaan laboratorium, kunjungan rawat jalan, angka rawat inap, hingga kematian. Lonjakan tersebut didorong dominasi virus Influenza A (H3N2) dengan varian baru subclade K, yang sebelumnya memicu lonjakan kasus di berbagai negara dan kemudian dijuluki ‘super flu’.
Menurut Osterholm, varian ini cukup berbeda dibandingkan strain pada tahun-tahun sebelumnya sehingga mampu menantang kekebalan tubuh yang sudah terbentuk. Meski varian subclade K belum masuk dalam komposisi vaksin flu tahun ini, CDC menyatakan vaksin yang beredar masih mampu melawan strain sejenis dan dinilai cukup efektif dalam menekan risiko sakit berat dan kematian.
- Gejala dan Kasus di Indonesia
Sementara di Indonesia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melaporkan 62 kasus Super Flu subclade K terjadi 25 Desember 2025. Perempuan dan anak-anak paling banyak tertular varian terbaru virus influenza tersebut.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr dr Nastiti Kaswandani, SpA, SubspRespi(K) mengatakan bahwa varian ini memang memiliki evolusi tinggi, mudah bermutasi, dan berpotensi menimbulkan epidemi.
Adapun gejalanya sama dengan influenza A pada umumnya. Mulai dari demam tinggi, menggigil, sakit kepala, hingga sakit tenggorokan. Jika didalami lebih lanjut, varian flu A H3N2 ini tidak bisa dideteksi secara klinis.
“Artinya dokter kalau melihat saja bahkan tidak bisa membedakan ini influenza atau bukan influenza, hanya mungkin bisa menduga ini secara klinis kelihatannya mirip influenza,” kata dr Nastiti.
“Ini berpotensi untuk menimbulkan kasus influenza massal yang bisa menyebabkan pasien itu banyak terkena sakit dan harus dirawat rumah sakit,” imbuhnya.***










