BI Perkuat Optimisme Ekonomi Nasional, QRIS Tembus 60 Juta Pengguna,

oleh -24 Dilihat
oleh

Jakarta – Pada awal tahun 2026 ini, Bank Indonesia (BI) mengungkap optimismenya, atas perekonomian nasional dalam dua tahun ke depan. Bank Indonesia juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap kuat dan stabil. Setelah tahun 2025, pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada di kisaran 4,7–5,5 persen, kemudian meningkat pada 2026 di rentang 4,9–5,7 persen, dengan titik tengah sekitar 5,3 persen.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, pada Peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia pada Rabu (28/1/2026). menyampaikan bahwa setelah melewati berbagai tantangan global sejak 2020, ekonomi Indonesia berada pada jalur pemulihan yang semakin solid dan berpeluang tumbuh lebih tinggi pada periode 2026–2027.

“Setelah melewati tahun-tahun yang penuh ujian, mari kita bangun optimisme. Insya Allah, tahun 2026 dan 2027 ekonomi Indonesia akan menjadi lebih baik,” ujar Perry

Sementara pada 2027, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5,1–5,9 persen, dengan titik tengah yang lebih tinggi, yakni 5,5 persen. Perry menegaskan, optimisme dan keyakinan seluruh pelaku ekonomi menjadi faktor penting untuk mencapai target tersebut.

“Optimisme itulah yang akan membawa ekonomi kita tumbuh lebih tinggi. Kalau kita terus ‘wait and see’, kita akan ketinggalan kereta,” tegasnya.

Di sisi stabilitas harga, Bank Indonesia memastikan inflasi tetap terjaga dalam sasaran. Pada 2026, inflasi diperkirakan berada pada kisaran 1,5–2,5 persen. Perry menekankan bahwa BI bersama pemerintah akan terus memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.

“Stabilitas harga adalah fondasi utama. Kami akan memastikan inflasi tetap terkendali,” katanya.

Dalam mendukung pertumbuhan, Bank Indonesia terus mendorong peningkatan penyaluran kredit perbankan. Pada 2026, pertumbuhan kredit diperkirakan berada di kisaran 8–12 persen, dan akan semakin diperkuat pada 2027 dengan target 9–13 persen.

Langkah ini diharapkan mampu mendorong aktivitas dunia usaha, memperluas investasi, serta mempercepat pemulihan dan transformasi ekonomi nasional.

Transformasi digital menjadi salah satu fokus utama BI. Perry mengungkapkan bahwa pada 2026, transaksi digital diproyeksikan mencapai 17 miliar transaksi, didukung oleh perluasan ekosistem sistem pembayaran digital nasional.

Pengguna QRIS diperkirakan telah mencapai 60 juta pengguna, sementara jumlah pelaku UMKM yang terhubung dalam ekosistem QRIS telah menembus 45 juta UMKM. Tak hanya di dalam negeri, QRIS juga akan diperluas ke delapan negara, yakni Malaysia, Thailand, Singapura, Jepang, China, Korea Selatan, India, dan Arab Saudi.

“Digitalisasi akan terus kami dorong bersama industri dan asosiasi sistem pembayaran,” ujar Perry.

Perry juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk membangun komitmen bersama demi kemajuan ekonomi nasional. “Optimis, optimis, dan optimis. Bangun komitmen, lakukan yang terbaik demi NKRI dan kesejahteraan rakyat,” pungkasnya.

Perry menegaskan komitmen Bank Indonesia untuk terus menjalankan bauran kebijakan secara optimal. BI akan menjaga stabilitas moneter, termasuk nilai tukar rupiah, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan melalui kebijakan di bidang moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar keuangan, serta penguatan ekonomi kerakyatan.

“Bank Indonesia berkomitmen, we will do our best. Kita jaga stabilitas, khususnya nilai tukar, dan terus mendorong penguatan rupiah,” tegasnya.***