Batam – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam terus mendorong pembenahan dan penguatan fungsi Museum Batam Raja Ali Haji agar semakin relevan dengan perkembangan zaman dan diminati masyarakat, khususnya generasi muda. Upaya tersebut dilakukan melalui pengayaan referensi dan adopsi praktik baik dari museum berskala nasional.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata, menegaskan bahwa museum tidak boleh berhenti sebagai ruang penyimpanan artefak semata, melainkan harus berkembang menjadi ruang edukasi yang hidup, menarik, dan adaptif.

“Museum harus terus berbenah. Kita ingin Museum Batam Raja Ali Haji tampil lebih segar, edukatif, dan mampu menarik minat pengunjung dari berbagai kalangan,” ujar Ardiwinata, Senin (9/2/2026).
Sebagai bagian dari upaya tersebut, rombongan Disbudpar Kota Batam melakukan kunjungan belajar ke Museum Nasional Indonesia di Jakarta, Jumat (6/2/2026). Kunjungan ini juga dirangkai dengan audiensi ke sejumlah lembaga seni dan kebudayaan sebagai pengayaan wawasan pengelolaan museum.
Kunjungan ke Museum Nasional, yang dikenal pula sebagai Museum Gajah, dipimpin Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Kota Batam, Samson Rambah Pasir. Ia menyampaikan bahwa Museum Batam Raja Ali Haji memerlukan pembenahan agar terus mengalami peningkatan jumlah kunjungan.
“Museum Batam Raja Ali Haji perlu pembenahan. Kita harus bergerak ke depan agar jumlah pengunjung terus meningkat. Karena itu , kami belajar ke Museum Nasional untuk melihat hal-hal yang bisa diadopsi dan disesuaikan,” tegas Samson.
Menurutnya, tingkat kunjungan ke Museum Batam Raja Ali Haji dari hari ke hari menunjukkan tren positif. Namun, agar daya tariknya semakin kuat, terutama bagi kalangan pelajar, inovasi menjadi kebutuhan yang tidak terelakkan.
“Inovasi adalah sebuah keharusan. Di kalangan Generasi Z, museum harus menarik dan menggembirakan. Jika tidak, tentu akan sulit diminati,” ujar Samson yang juga dikenal sebagai penyair.
Ia menambahkan, konsep museum ke depan perlu dikembangkan sebagai ruang rekreasi yang nyaman dan interaktif. Salah satu gagasan yang dikaji adalah pemanfaatan teknologi digital berbasis pengalaman pengunjung.
“Misalnya dengan menghadirkan aplikasi pemindaian wajah Nusantara. Pengunjung dapat memindai wajah mereka dan mengetahui latar belakang suku bangsa. Batam terdiri atas beragam suku, dan konsep ini dapat menumbuhkan kebanggaan terhadap asal-usul budaya,” jelasnya.
Menanggapi gagasan tersebut, Ardiwinata menyatakan dukungan dan menyambutnya dengan antusias. Ia menilai inovasi semacam ini dapat menjadi daya tarik baru museum sekaligus sarana edukasi kebudayaan yang kontekstual.
“Menarik. Konsep seperti ini patut kita kaji lebih lanjut. Kita akan susun perencanaannya dan mulai melakukan pembenahan museum secara bertahap. Inovasi memang sangat diperlukan,” ujar Ardiwinata. Ia juga menyampaikan akan menunggu laporan lengkap tim Disbudpar sepulang dari Jakarta sebagai dasar langkah selanjutnya.
Dengan penguatan konsep dan inovasi berkelanjutan, Pemerintah Kota Batam berharap Museum Batam Raja Ali Haji dapat berkembang sebagai ruang pembelajaran sejarah dan kebudayaan yang modern, inklusif, dan diminati lintas generasi.***










