Batam – Kinerja ekonomi Kepulauan Riau (Kepri) tetap kuat, di tengah tantangan global, termasuk tekanan geopolitik di Timur Tengah, ketidakpastian perdagangan dunia serta perlambatan inflasi global. Demikian, Kepri mampu mencatat kinerja jauh lebih tinggi dengan pertumbuhan sekitar 7,48 persen.
Secara nasional, ekonomi Indonesia tumbuh 5,04% pada triwulan III 2025. Namun, Kepulauan Riau mencatat kinerja jauh lebih tinggi dengan pertumbuhan mencapai 7,48%, sekaligus menempatkannya sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sumatra selama 27 bulan berturut-turut.

Demikian disampaikan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepri, Ardhienus, Jumat (28/11/2025), usai Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025. Pertemuan Tahunan BI 2025 Dorong Akselerasi Pertumbuhan dan Penguatan Daya Tahan Ekonomi
Pada kesempatan itu disampaikan perkembangan terkini perekonomian Kepulauan Riau sepanjang tahun 2025 serta prospeknya pada tahun 2026. Pertumbuhan kuat tersebut ditopang oleh sektor-sektor unggulan, meliputi industri pengolahan, pertambangan, perdagangan besar dan eceran, konsumsi rumah tangga, investasi dan ekspor–impor.
“Stabilitas harga di Kepri juga dinilai baik. Pada Oktober 2025, inflasi IHK tercatat sebesar 0,36% (mtm) atau 2,05% (ytd). Secara tahunan, inflasi berada pada level 3,01% (yoy), masih dalam rentang sasaran nasional 2,5% ± 1%,” tegasnya.
Ardhienus mengatakan, capaian ini adalah hasil sinergi kuat pemerintah daerah, TPID, dan Bank Indonesia melalui strategi 4K. Yakni Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, hingga Komunikasi efektif. Dari sisi keuangan, kinerja perbankan di Kepri menunjukkan penguatan. Dimana pada Oktober 2025, Kredit tumbuh 17,3%, Aset perbankan naik 11,30% serta Dana pihak ketiga (DPK) meningkat 11,06%.
“Pertumbuhan tersebut terjadi dengan tetap rendahnya rasio kredit bermasalah (NPL), sehingga stabilitas sistem keuangan tetap terjaga,” jelasnya.
Bank Indonesia juga menekankan komitmen memperluas digitalisasi ekonomi melalui peningkatan penggunaan QRIS, kartu ATM/debit, uang elektronik, serta mendorong transaksi non-tunai lainnya.
“Jumlah pengguna, merchant, volume, dan nominal transaksi digital terus meningkat, mencerminkan percepatan transformasi digital masyarakat,” tambahnya.
Selain itu, jelasnya lagi, BI Kepri aktif mempromosikan cross-border payment untuk memudahkan transaksi lintas negara, terutama guna mendukung sektor pariwisata mengingat lokasi strategis Kepri yang berdekatan dengan Singapura dan Malaysia.
Disampaikan Ardhienus, sinergi dan kolaborasi antar-OPD, lembaga, serta pemerintah daerah akan terus diperkuat. Bank Indonesia berkomitmen hadir sebagai mitra strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga stabilitas inflasi di Kepri.***










