Mengolah Ikan, Menjaga Rasa dan Daya di Pasar Global

oleh -39 Dilihat
oleh

Produk UMKM Azzura Snack yang dijual disalah satu pusat perbelanjaan di Batam. (f-istimewa)

Batam – Kreatifitas dengan menjaga kualitas dan rasa, menjadi salah satu kunci pelaku UMKM, untuk bertahan dan berkembang. Sebagai UMKM didaerah wisata dan perbatasan dengan negara tetangga, kualitas atas rasa makanan ringan, menjadi kunci untuk dilirik dan bertahan dari tekanan makanan ringan impor.

Memasuki area parkir One Mal Batam, di Batam Center, terlihat puluhan tenda kecil seukuran 2 x 2 meter, berjejer. Tenda-tenda itu berdiri diparkiran mal, yang diisi produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Mereka menjajakan makanan dan minuman, yang disajikan untuk berbuka puasa, hingga makanan ringab untuk oleh-oleh. Sementara didalam mal, terlihat produk UMKM kerajinan. Seperti tas berbahan baku eceng gondok, kain batik yang diproduk UMKM dan lainnya.

Pemandangan itu terlihat saat memasuki area parkir mal itu, Rabu (4/3/2026), sekitar pukul 16.30 WIB. Saat mendekati pintu kdua mal itu, terlihat Kepala Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Kepulauan Riau (Kepri) Rony Widijarto.

Saat itu, Rony sedang menunggu kehadiran Wakil Gubernur Kepri, Nyanyang Haris Pratamura, yang akan membuka bazar UMKM itu. Saat itu, diagendakan pembukaan, pasar ramadhan UMKM bertajuk, Kepulauan Riau Ramadhan Fair (KURMA) 2026. Kegiatan itu sudah digelar selama tiga tahun belakangan ini, pasca Covid-19.

Setelah kehadiran Nyanyang dan dilakukan pembukaan bazar UMKM itu, pejabat dan tamu undangan BI, menyempatkan diri berkeliling. Mereka meninjau stand UMKM yang kehadirannya di mal itu, difasilitasi BI Kepri bersama Pemprov Kepri, 2 sampai 8 Maret 2026.

Diantara UMKM yang membuka stand di Kurma 2026, yang dibuka dan  ditinjau Nyanyang bersama Rony, ada produk makanan ringan, dengan merek, Azzuri Snack. UMKM ini milik perempuan bernama Maryani (48).

UMKM Azzuri Snack, merupakan UMKM binaan BI Kepri, yang rajin mengikuti agenda promosi produk atau bazar, yang digelar BI. Bahkan, produk mereka menjadi salah satu produk UMKM dari Batam, yang dipromosikan, dalam situs milik BI, karyakreatifindonesia.co.id. Dilabeli sebagai produk UMKM unggulan, camilan Nusantara.

Kemudian melalui web site, inaexport.id sebagai platform direktori B2B, mikik Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional, Kementerian Perdagangan RI. Melalui situs ini, Kemendag RI membantu menghubungkan eksportir dengan konsumen atau pembeli dari mancanegara.

“Iya, usaha dan produk kita ada di situs milik kementerian. Itu karena kita juga selalu ikut pameran, agar bisa lebih mudah memasuki pasar yang lebih luas,” kata Maryani sambil melempar senyumnya.

Maryani merupakan salah satu dari banyak pelaku UMKM di Batam, yang memulai usaha, setelah ia atau suami, mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK), dari perusahan industri di Batam. Suaminya, mengalami PHK, setelah Maryani, terlebih dulu berhenti bekerja, karena menikah.

Saat suaminya di PHK perusahaan, ia memutar otak, untuk bisa bertahan hidup di Batam. Perempuan asal Karimun ini tidak ingin menyerah dengan kondisi perekonomian yang sulit. Hingga ia memberanikan diri untuk memulai usaha.

Dengan modal yang terbatas, ia didukung suaminya, untuk memanfaatkan dapur rumah mereka, di RT.04 RW01 No.13 Kelurahan Bengkong Laut, Bengkong, Kota Batam. Disana, Maryani ia mengolah makanan ringan, mengemas, sekaligus menjadi titik awal pemasarannya.

Setelah kegiatan bazar KURMA dan sebelum libur lebaran Idul Fitri, Kamis (12/3/2026), istri dari Zakaria yang berprofesi sebagai wiraswata ini, terlihat menikmati kegiatannya, bersama karyawannya. Mereka bekerja keras, namun tetap dalam suasana gembira, untuk menyelesaikan pesanan sebelum libur lebaran.

Maryani, merupakan pejuang yang tidak menyerah pada tekanan ekonomi di kota industri, Batam. Sebelum hasil perjuangan itu dinikmati, Maryani sudah menjalani perjuangan yang cukup berat. Sebelum memulai usaha, ia harus memutar otak, untuk produk yang akan dibuat dan dipasarkan.

Pada saat itu, ia berfikir untuk memamfaatkan kekayaan laut Kepri yang luas. Pilihannya diputuskan untuk mengolah makanan ringan, dari ikan di perairan Batam.

Kemudian, untuk memahami tehnik pengolahan makanan ringan, dengan berbagai bahan baku ikan, ia belajar sendiri, lewat internet. Ia memanfaatkan media sosial, terutama youtube, hingga mengikuti pelatihan memasak yang digelar berbagai instansi di Kepri, termaksud Bank Indonesia.

“Saya dan suami diskusi untuk memutuskan bahan baku itu. Saya ingin, buat makanan ringan, tapi bahannya khas Kepri,” bebernya.

Saat itu muncul ide, untuk memanfaatkan hasil laut Kepri, sebagai bahan baku. Memberanikan diri untuk mengolah ikan Tenggiring, sebelum mengembangkan jenis produk, dengan bahan baku Gonggong.

Dalam pertimbangannya, tidak hanya memasukkan pasar produk yang akan dihasilkan. Namun juga terkait ketersediaan bahan baku. Setelah survey ke pasar pagi di Batam, mereka optimis, bahan baku bisa dipenuhi.

“Saya memberanikan diri untuk mengolah ikan khas Kepri, sebagai makanan ringan, dengan perhatikan pasar penjualan dan bahan baku,” bebernya.

Setelah mengambil putusan, ia menjalankan aktivitas di dapur bersama suaminya dan anak keduanya, bernama Panzuri. Nama anaknya ini juga menjadi sumber merek makanan ringan, yang mereka produksi, Azzuri Snack.

Setiap hari, mereka harus bekerja keras mengolah bahan baku, menjadi kerupuk. Seiring perkembangan usaha rumah tangga itu, ia merekrut karyawan.

Pengembangan usaha dilakukan Maryani, pada tahun 2015. Ia menambah karyawan, untuk membantu mengolah, dan mengemas makanan ringan itu.

Dengan bantuam karyawan ini, Maryani juga menentukan waktu produksi UMKM miliknya. Bersama karyawannya, kini mereja memproduksi makanan ringan, mulai pukul 08.00 WIB, hingga sekitar pukul 17.00 WIB.

Setiap anak buah Maryani, menjalankan aktivitasnya, sesuai dengan pekerjaan yang ditugaskan. Ada yang mengolah makanan dengan menggunakan mesin giling ikan. Kemudian ada yang mengoperasikan mesin adonan. Ikan yang sudah diolah dengan menggunakan mesin giling dimasukkan ke kuali pengukus.

Untuk memudahkan hasil yang lebih baik, disediakan loyang cetakan kerupuk. Setelah masak, kemudian ditimbang dan dimasukkan kedalam kemasan plastik yang sudah memiliki label atau merk makanannya.

“Ikan tenggiri dibeli dari nelayan atau pasar ikan Batam. Jadi kita menggunakan pasar lokal dan supplier bahan kue di Batam, untuk memenuhi kebutuhan,” cerita Maryani.

Dari bahan baku Gonggong dan Ikan Tenggiri itu, Maryani dengan dibantu enam karyawan, mengolah dan memproduksi makanan ringan kerupuk. Mereka menghasilkan makanan ringan dan mengemas, kerupuk dengan berbagai rasa.

“Soal rasa itu wajib dan bagian terpenting dari kualitas. Kemudian, kita jaga produk kita, positif bagi kesehatan. Dan kemasan produk itu juga sangat penting,” urainya.

Seperti, Kerupuk Ikan Tenggiri Non MSG (tanpa penyedap rasa buatan). Kemudian ada Kerupuk Ikan Tenggiri, Keripik Gonggong, Kerupuk Tulang Ikan Tenggiri, Kerupuk kulit ikan tenggiri giling no msg dan ditambah Keripik Tempe 2 varain rasa. Masing-masing produk dalam kemasan plastik itu, dipasarkan seharga Rp20.000.

Kini, tidak hanya daging ikan Tenggiri yang dijadikan bahan baku produknya. Kini, tulang dan kulit ikan tenggiri juga sudah diolah, untuk menjadi kerupuk Azzuri Snack, dengan nama kerupuk tulang ikan tenggiri (Tulgi).

Kreatifitas dan keberanian Maryani mengolah tulang dan sisik ikan, tidak hanya menghasilkan uang. Produk olahan tulang dan sisik ikan ini, bahkan mendapat penghargaan predikat Produk Ramah Lingkungan (Green Product) saat bazar UMKM pesisir di Batam.

Dengan aktivitasnya dan karyawan yang direkrut dari tetangganya itu, Maryani kini mampu memproduksi sekitar 200 bungkus per hari. Tidak hanya memenuhi biaya hidup keluarga, ia sudah bisa membantu tetangga yang menjadi karyawannnya.

“Per bulan kita hasilkan sekitar 6.000 bungkus. Tapi produksi kita juga dipengaruhi pesanan,” ujarnya.

Wisatawan mancanegara saat membeli produk Azzura Snack di Batam.

Sudah Dinikmati Warga Mancanegara

Saat ini, selain meningkatkan produk dan pasar, ia menekankan pada karyawan, untuk menjaga kualitas dan rasa produk makanan ringan itu. Disadari, pasar produknya bisa dipertahankan, hingga dikembangkan, jika kulitas produk dijaga, ditingkatkan.

“Kita selalu menjaga kualitas dan rasa agar penjualan naik,” tegasnya.

Dengan kualitas produk yang terjaga, maka ia akan lebih percaya diri, melakukan promosi produk. Saat ini, makanan ringan produk Azzura Snack juga sudah mengantongi sertifikat BPOM dan sertifikat halal.

Dengan kualitas dan rasa yang terjaga, Maryani juga mampu bertahan serta berkembang dalam persaingan pasar. Mereka dengan percaya diri, melakukan promo dan penjualan produk, ditengah-tengah kegiatan produksi.

Sambil menemani karyawannya, Maryani kerap melakukan pemasaran secara online, di media sosial. Baik melalui Instagram, marketplace di Facebook,  Whatsapp, aplikasi jual beli Shopee, Tokopedia dan lainnya.

Daya tarik produk UMKM ini diuji pasar wisatawan, saat dititipkan di Toko Oleh-Oleh, Hotel dan menitipkan di stand-stand di Pusat Perbelanjaan di Batam. Pasar ini menjadi salah satu pasar global Azzura Snack, karena ada banyak pengunjung di pusat perbelanjaan oleh–oleh di Batam. Disana, wisatawan daerah luar daerah dan negara tetangga, banyak berbelanja, untuk dikonsumsi di Batam, hingga menjadi oleh-oleh.

Melalui pameran dan pemasaran di pusat oleh-oleh di Batam, banyak wisatawan, yang membeli Azzuri Snack. Bahkan wisatawan mancanegara dari Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam, sudah banyak yang akrab dengan makanan ringan ini.

Pengembangan pasar UMKM juga kerap diikuti Azzura, melalui kegiatan bazar. Seperti yang dilakukan Bank Indonesia Kepri. Seperti ikut promosi lewat bazar seperti dilakukan pemerintah dan BI kemarin.

“Itu sangat membantu kita, mengembangkan pasar kita ke daerah lain, hingga manca negara,” bebernya.

Dengan usaya yang terus berkembang, Maryani masih mengharapkan, pemerintah dapat terus mendukung pengembangan UMKM. Dukungan yang diharapkan, seperti pelatihan usaha dan pemasaran digital, kesempatan ikut pameran, bantuan modal usaha, kemudahan perizinan usaha serta dukungan promosi produk lokal.

“Ini tidak hanya untuk kami, tapi juga kebutuhan untuk pelaku UMKM laknnya,” harap Maryani.

Kini, dengan usaha kecil yang bertahan lebih dari 15 tahun ini, Maryani kini bertahan di Batam. Bahkan tidak hanya ia dan keluarganya, kini ia sudah mampu membantu ekonomi enam keluarga lain, yang menjadi karyawannya.

“Tidak hanya membantu ekonomi keluarga, menyekolahkan anak, tapi sudah bisa bantu ekonomi saudara atau tetangga juga,” imbuhnya mengakhiri.

Ditengah bazar bertajuk KURMA berlangsung, salah seorang wisatawan mancanegara (Wisman) yang ditemui, mengakui baru berbelanja di produk makanan dan kerajinan. Mirna, wisman asal Johor, Malaysia mengaku membeli makanan ringan, produk Azzuri Snack.

Kemudian, membeli batik yang tergolong murah atau sekitar Rp50 sampai Rp100 ribu di butik bazar KURMA. “Saya ke Batam untuk ke lima kali. Biasanya saya belanja untuk oleh-oleh. Tapi nanti bisa sekaligus untuk dijual di Johor. Sekarang lagi mempejari bisnisnya,” terang Mirna.

Karyawan saat mengolah bahan baku, untuk menghasilkan makanan ringan khas Azzura Snack.

Kolaborasi Dukung Pengembangan UMKM

Saat ini, pengembangan UMKM di Batam, mendapat dukungan dari banyak pihak. Dukungan itu dinilai penting, untuk menjadikan UMKM, bisa bersinergi dengan industri, yang menjadi salah satu kekuatan ekonomi Batam.

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Kepri, Rony Widijarto menyampaikan, penting penguatan UMKM, melalui sinergi dengan sektor industri. Seperti produk makanan, sebagaimana dihasilkan dan dipasarkan Azzuri Snack.

Untuk itu, pihaknya mendukung dan membantu pengembangan ekonomi syariah, melalui UMKM. Dimana, BI melakukan penguatan ekosistem produk halal, mulai dari proses produksi, penjualan, hingga sistem transaksi.

BI juga mendorong kemudahan akses UMKM ke layanan perbankan. Mengenalkan sistem pembayaran digital melalui QRIS. Dimana, sepanjang 2025, transaksi QRIS di Kepri tercatat mencapai Rp11,5 triliun.

Target-target itu yang mendorong BI Kepri, menggelar KURMA 2026, dengan target, penguatan ekosistem produk halal sebagai prioritas utama. Mendorong pelaku UMKM wastra dan makanan olahan untuk memperoleh sertifikasi halal sehingga produk lokal memiliki daya saing lebih luas di pasar.

BI Kepri mendorong masyarakat untuk lebih memahami produk dan layanan keuangan syariah, termasuk aspek perlindungan konsumen. Dengan literasi yang lebih baik, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi pengguna layanan keuangan, tetapi juga mampu menjadi pelaku ekonomi yang lebih cerdas dan produktif.

“Potensi ekonomi syariah di Kepri sangat besar, terutama melalui sinergi dengan sektor industri dan UMKM, khususnya pada industri makanan yang berkembang pesat di Batam sebagai salah satu motor investasi daerah,” harap Rony.

Untuk modal pengembangan UMKM, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kepri, sebagaimana disampaikan Kepala OJK Kepri , Sinar Danandjaya, Selasa (28/3/2026), pihaknya siap mendukung. Dukungan yang diberikan OJK, meminta Industri Jasa Keuangan, memprioritaskan penyaluran pembiayaan ke sektor-sektor strategis daerah dan penguatan kapasitas UMKM.

“Kita ingin agar UMKM itu memperbesar usaha dan pasar dengan peningkatan kualitas produk dan layanan,” harap Sinar.

Diungkapkan, penyaluran kredit/pembiayaan kepada UMKM di Provinsi Kepri, naik pada tahun 2025.  Data OJK, hingga 31 Desember 2025, program Pengembangan Ekonomi Daerah (PED) OJK Kepri tahun 2026 lewat bank umum dan bank Syariah, kredit UMKM tumbuh 16.6 persen.

“Sementara lewat Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Syariah, kredit UMKM tumbuh 61.9 persen,” beber Sinar.

Pada tahun 2026 ini, Kantor OJK Provinsi Kepri, berupaya menjalankan program Pengembangan Ekonomi Daerah (PED), untuk menciptakan suatu ekosistem tertutup (close-loop) berbasis multi-stakeholder. Mulai dari pelaku UMKM, industri pengolahan, industri keuangan, hingga pemerintah.

“Ini dimaksud, dalam mendorong peningkatan produktivitas sektoral sekaligus mengakselerasi pendalaman akses keuangan di masyarakat yang lebih luas berbasis sektor ekonomi unggulan yang dimiliki provinsi,” harapnya

Dukungan juga datang dari Wali Kota Batam, sekaligus Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam,  Amsakar Achmad. Pihaknya sudah menyiapkan, program bantuan modal hingga Rp20 juta tanpa bunga.

“UMKM itu pilar ekonomi masyarakat. Kita penting memperkuat kolaborasi dengan pelaku UMKM. Kita di BP dan Pemko Batam, selalu siap untuk mendukung,” tegasnya. “Spirit kami, bagaimana UMKM di Batam bisa naik kelas,” ujar Amsakar.

Disebut, kendala UMKM di Batam, diantaranya tata kelola usaha. Kemudian, keterbatasan akses permodalan, kemasan (packaging), branding dan pemasaran. Karena itu, pihaknya berupaya memberikan dukungan komprehensif melalui pelatihan, pendampingan, dan promosi produk.

“Kami juga akan memperhatikan, agar arus investasi yang masuk ke Batam, dapat memberikan dampak langsung bagi pelaku UMKM,” harap Amsakar mengakhiri.(mar)