Kepri Tutup Tahun 2025 dengan Capaian Pertumbuhan Ekonomi 7,48 Persen

oleh -107 Dilihat
oleh

Batam – Mengawali tahun 2026 ini, Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), mengungkap kondisi perekonomian hingga akhir tahun 2025. Dimana, Provinsi Kepri mencatat pertumbuhan ekonomi, 7,48 persen. Angka pertumbuhan itu lebih tinggi ekonomi nasional.

Kondisi pertumbuhan ekonomi akhir tahun itu diungkapkan Deputi Kepala Perwakilan BI Kepri, Ardhienus, usai penyampaian Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2025, secara live nasional, dengan Bank Indonesia, Rabu (28/1/2026) di Lantai 3 Gedung Bank Indonesia Perwakilan Kepri.

“Capaian perekonomian Kepri 2025 pada triwulan III 2025 mampu tumbuh sebesar 7,48% (yoy). Terakselerasi dari triwulan sebelumnya dan tumbuh lebih tinggi dari Nasional. Secara kumulatif, sampai dengan triwulan III 2025 ekonomi Kepri mampu tumbuh 6,60% (ctc), juga lebih tinggi dari Nasional dan menjadi provinsi dengan pertumbuhan tertinggi se-Sumatera,” kata Ardhienus

Menurutnya pertumbuhan itu didukung oleh pertumbuhan sektor-sektor unggulan di Kepri. Antara lain LU Industri Pengolahan, Pertambangan, Konstruksi, dan Perdagangan. Selain itu, kebijakan moneter yang lebih akomodatif seiring dengan tren inflasi yang melandai turut mendorong konsumsi masyarakat.

“Termaksud dukungan beroperasinya sejumlah tambang migas baru di wilayah Natuna dan Anambas. Implementasi kebijakan short term visa serta kebijakan pendorong pariwasata lainnya. Berlanjutnya investasi dengan pengembangan sejumlah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Kepri,” bebernya.

Sementara faktor yang mempengaruhi pelambatan ekonomi pada tahun 2025, karena gejolak geopolitik yang masih berlanjut. Memberikan disrupsi terhadap perekonomian global hingga domestik. Kemudian ada Trump Effect dengan kebijakan tarif resiprokal sehingga meningkatkan persaingan perdagangan internasional.

“Peresmian kerja sama Johor-Singapore Special Economic Zone (JS-SEZ) meningkatkan persaingan investasi dengan KEK yang ada di Kepri. Upside Factor Downside Factor,” urainya.

Sementara yang mendorong hilirisasi bahan baku dan sumber daya alam yang ada di Kepri untuk memperkuat local value chain (LVC). Mendorong normalisasi frekuensi dan perluasan rute penerbangan baru di wilayah Kepri untuk mendukung peningkatan kunjungan wisatawan. Penguatan aspek 3A dan 2P (Akses, Amenitas, Atraksi, Pelaku, dan Promosi) sebagai upaya mendorong pemulihan sektor pariwisata. Mendorong peningkatan investasi melalui penguatan insentif dan regulasi.

“Kemudian, meningkatkan perluasan digitalisasi sistem pembayaran dan elektronifikasi transaksi pemerintah daerah. Juga memperkuat program pemberdayaan UMKM sehingga dapat menghasilkan produk-produk unggulan yang berorientasi ekspor,” terangnya.

Kinerja positif ekonomi Kepri didorong oleh pertumbuhan sektor-sektor unggulan, khususnya industri pengolahan, konstruksi, dan perdagangan. Ketiga sektor tersebut memberikan kontribusi besar terhadap pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kepri.

Dari sisi pengeluaran, Ardhienus menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Kepri memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan nasional. Jika secara nasional pertumbuhan lebih banyak ditopang oleh konsumsi rumah tangga, maka di Kepri investasi menjadi pendorong utama, disusul oleh konsumsi.

“Ekonomi Kepri sangat kuat ditopang oleh investasi. Ini menjadi keunggulan struktural yang perlu terus dijaga dan diperkuat,” jelasnya.

Bank Indonesia juga mencermati sejumlah sektor ekonomi potensial yang akan menjadi penggerak pertumbuhan Kepri ke depan. Salah satunya adalah sektor pariwisata, yang semakin mendapat dukungan kebijakan nasional.

Penetapan Kepri sebagai salah satu destinasi pariwisata unggulan dan terintegrasi oleh Kementerian Pariwisata dinilai akan memperkuat daya tarik wisata daerah, sekaligus mendorong pengembangan sektor-sektor turunan lainnya.

Selain pariwisata, industri kreatif juga menjadi sektor prioritas. Industri ini masuk dalam tujuh sektor unggulan nasional dan menjadi bagian dari strategi menuju Indonesia Emas 2045, sebagaimana disusun oleh pemerintah pusat.

Di sisi lain, industri digital di Kepri terus menunjukkan tren pertumbuhan positif. Permintaan terhadap data center dan infrastruktur digital mengalami peningkatan seiring dengan perkembangan ekonomi digital dan kebutuhan pengolahan data yang semakin besar.

Peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga menjadi sorotan penting dalam struktur ekonomi Kepri. UMKM dinilai sebagai salah satu penggerak utama perekonomian daerah, dengan kontribusi besar terutama di sektor industri pengolahan, seperti kriya, fesyen, dan kuliner.

“Perlu terus mendorong penguatan UMKM melalui berbagai program, antara lain pelatihan bisnis, pendampingan, serta promosi produk unggulan daerah. UMKM diarahkan untuk naik kelas dan memperluas akses pasar, baik di tingkat regional maupun nasional,” pesannya mengakhiri.(am)