50 Tahun Save The Children Indonesia: Bantu Pemulihan Anak Korban Bencana

oleh -44 Dilihat
oleh

Batam – Bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, mendapat perhatian Yayasan Save The Children Indonesia. Setelah sebelumnya turun kelokasi bencana banjir dan longsor, kondisi anak-anak dinilai butuh perhatian lebih. Yayasan Save The Children Indonesia, menyatakan siap untuk membantu pemulihan sosial dan psikis anak-anak korban bencana.

Pernyataan itu disampaikan Ketua Dewan Pembina Yayasan Save the Children Indonesia, Daniel Rembeth, saat diskusi tahunan dalam merayakan 50 tahun yayasan itu, Rabu (14/1/2025). Hadir juga CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar, Plt Deputi Bidang PKA, KemenPPPA, Ratna Susianawati dan Sr. Director, Advocacy, Campaign & Government Relations Save the Children Indonesia, Tata Sudrajat.

“Kita minta, agar kita memberikan perhatian terhadap anak-anak korban bencana,” kata Sudrajat.

Diungkap secara ringkas, kondisi anak-anak korban bencana. Selain dampak gempat pada psikologis anak, juga kondisi fisik bangunan-bangunan yang menjadi tempat anak menimba ilmu.

“Mereka saat ini menempati ruang belajar di tenda dan diruang semi permanen,” ujarnya.

Untuk itu, ia minta masukan dari semua yang hadir pada kesempatan itu, untuk memberikan dukungan. Termaksud dukungan dari jurnalis, untuk menyampaikan kondisi anak, sesuai dengan fakta dilapangan, dampak bencana di Sumut, Aceh dan Sumbar.

“Anak-anak butuh dukungan kita. Sejauh ini, guru-guru disana punya semangat. Walau sekolahnya belum berfungsi. Ada sekolah terbesar yang sudah tidak bisa berfungsi. Gedung sekolah tertutup tanah. Tapi anak-anak punya semangat belajar,” sambung Sudrajat.

Karena itu, ia meminta agar kedepan, semua pihak dapat bersama-sama, membantu pemulihan. “Inilah tugas kita kedepan. Bagaimana kita memulikan dampak sosial, fisik dan pisikis. Sehingga kedepan, bisa dikembalikan seperti sebelumnya,” harapnya.

Diakui, pihaknya sudah turun kelapangan, untuk membantu penanganan dampak banjir bagi anak-anak. Selain dampak pada anak, dinilai penting untuk memperhatikan kelangsungan alam.

“Kami sudah turun kelapangan. Kami datang dari Tarutung, melalui Barus (Sumut). Sepanjang jalan, banyak hutan gundul, kemudian longsor. Ini menjadi tantangan tantangan ekologis yang kita hadapi saat ini,” bebernya.

  • Sorot Kekerasan Anak Diruang Digital

Selain problem yang dihadapi anak korban bencana yang disampaikan Sudrajat, CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar menyampaikan target perhatian Yayasan itu, untuk tahun 2026 ini. “Selain dampak bencana, anak-anak Indonesia juga mendapat ancaman kekerasan. Termaksud kekerasan anak diruang digital.

Kondisi anak yang beraktifitas diruang digital, dinilai menjadi tantangan kedepan. Selain anak yang melek digital, namun perlu diperhatikan dampaknya. Penting untuk memenuhi kebutuhan anak dalam berkembang, tanpa mengesampingkan dampak.

“Anak Indonesia sudah melek digital, tapi rentan dengan resiko. Jadi perlu perhatikan perkembangan anak kedepan. Pemenuhan kebutuhan anak menjadi penting. Mari kita pastikan, suara anak tidak tenggelam,” ajak Dessy.

Karena itu, pihaknya mengajak pemangku jabatan di Indonesia, untuk berjalan bersama, dalam memberikan yang terbaik bagi anak-anak. “Kami ingin mengajak kita berjalan. Tidak hanya memenuhi kebutuhan, tapi memenuhi harapan anak Indonesia. Harapan kami, agar semua tergerak. Ketika kita menjaga hak anak, maka kita menjaga masa depan Indonesia kedepan,” imbuhnya mengakhiri.***