BP Batam, Pemko dan Kementerian Kembangkan Jodoh Boulevard Sebagai Ikon Kawasan UMKM

oleh -162 Dilihat
oleh

Batam – Wakil Menteri UMKM Helvi Yuni Moraza, melakukan peninjauan kawasan Jodoh Boulevard, sebagai daerah pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Jodoh menjadi bagian program New Nagoya. Sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah membantu Batam, selain industri juga sebagai daerah belanja, untuk menggerakkan UMKM lokal secara berkelanjutan.

Wakil Menteri UMKM Helvi Yuni Moraza melakukan peninjauan kawasan Jodoh, bersama pejabat Badan Pengusahaan (BP) Batam, Pemerintah Kota Batam serta Wakil Menteri UMKM, Helvi Yuni Moraza, pada Jumat (9/1/2026) pagi ke kawasan Tanjung Pantun, Jodoh, Batam.

Deputi Infrastruktur BP Batam Mouris Limanto menegaskan bahwa penataan kawasan Jodoh sebagai “New Nagoya” merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ekosistem ekonomi Batam. Kawasan ini diharapkan menjadi pusat aktivitas ekonomi rakyat yang modern, tertib, dan berdaya saing.

“Dengan dukungan pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta sinergi pelaku UMKM dan sektor perbankan, pengembangan Jodoh diharapkan mampu menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi Batam,” tegasnya.

Tidak hanya meningkatkan pendapatan UMKM, tetapi juga menciptakan lapangan kerja. “Kemudian, memperkuat sektor pariwisata, dan mengangkat citra Batam sebagai kota perdagangan dan wisata belanja berkelas internasional,” sambungnya.

Sementara Wakil Menteri UMKM Helvi Yuni Moraza mengatakan, kedatangannya sebagai tindaklanjut pembicaraan sebelumnya dengan pejabat Pemko dan BP. “Ini tindak lanjut undangan dari Pemerintah Kota Batam dan BP Batam untuk melihat langsung konsep besar yang tengah disiapkan,” kata Helvi.

Konsep tersebut diarahkan untuk menjadikan Batam khususnya kawasan Jodoh sebagai destinasi wisata belanja yang terintegrasi dengan penguatan UMKM.

“Kementerian UMKM memang dipersiapkan oleh Presiden untuk menemukan, menaikkan kelas, membina, dan melakukan pendampingan kepada pelaku UMKM. Termasuk membuka akses pembiayaan dan pasar. Karena itu, kami sangat mendukung upaya kolaboratif seperti yang sedang dirancang di Batam ini,” ujar Helvi.

Menurutnya, pengembangan “New Nagoya” tidak hanya menitikberatkan pada aspek perdagangan dan pariwisata, tetapi juga mengusung misi pelestarian budaya lokal. Kawasan Jodoh diproyeksikan menjadi ruang hidup ekonomi yang merepresentasikan sejarah dan dinamika masyarakat Batam, sekaligus menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Kalau kita bicara wisata belanja yang berbasis budaya, maka harus ada narasi dan identitas yang kuat. Ada ‘perhiasan budaya’ yang melekat pada kawasan tersebut, sehingga menjadi kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku UMKM, kementerian, dan juga perbankan Himbara agar tujuan bersama ini tercapai,” jelasnya.

Helvi juga menyoroti persoalan klasik yang kerap muncul dalam proyek revitalisasi kawasan, yakni kekhawatiran pelaku UMKM terhadap penggusuran. Ia menegaskan bahwa konsep penataan Jodoh tidak mengarah pada pengusiran pedagang, melainkan penataan dan pengelolaan yang lebih baik.

“Tadi saya tanyakan langsung kepada para pelaku UMKM. Mereka tetap di sini, bukan digusur, tetapi dikelola. Bagaimana kawasan ini menjadi lebih menarik, bersih, tertata, dan memiliki akses yang baik. Ini yang menjadi semangat utama,” tegasnya.

Ia menambahkan, keberhasilan program ini sangat bergantung pada perencanaan teknis yang matang serta komunikasi yang intensif dengan para pelaku usaha. Untuk itu, ke depan akan dibentuk tim teknis lintas instansi yang melibatkan Pemerintah Kota Batam, BP Batam, kementerian terkait, serta pemangku kepentingan lainnya.

“Nanti akan ada tim teknis yang duduk bersama merumuskan konsep, skema pengelolaan, hingga solusi atas berbagai persoalan yang mungkin timbul. Yang tidak kalah penting adalah sosialisasi agar semua pihak memahami arah kebijakan ini,” katanya.***