Batam – Badan Pengusahaan Batam (BP Batam) melalui Deputi Bidang Infrastruktur resmi memulai rangkaian awal pembangunan dan penataan Kawasan Nagoya Heritage. Proyek strategis yang diproyeksikan menjadi koridor wisata baru, pusat UMKM modern, dan ikon wajah baru Kota Batam.
Demikian diungkapkan Anggota/Deputi Bidang Infrastruktur BP Batam Mouris Limanto, Jumat (2/1/2026). Saat itu, ia memimpin langsung survei lapangan yang melibatkan berbagai stakeholder, mulai dari instansi teknis BP Batam, Pemerintah Kota Batam, Dinas Pariwisata, perwakilan asosiasi pedagang, hingga mitra perbankan BRI.

“Melalui proyek Nagoya Heritage, BP Batam ingin mendorong transformasi kawasan pusat kota menjadi ruang publik modern,” katanya.
Konsep modern yang disiapkan BP Batam, terintegrasi dengan pusat kuliner, area belanja, ruang UMKM, pedestrian ramah pejalan kaki, dan estetika kota yang tertib serta hidup.
“Konsepnya seperti Mokobel City tetapi dengan karakter Batam. Kita ingin menghadirkan kawasan yang punya identitas baru—tempat orang berjalan kaki dengan aman, berwisata kuliner, berbelanja barang kreatif, dan merasakan atmosfer kota yang lebih berbudaya dan tertata,” ujar Mouris.
Pengembangan ini merupakan bagian dari program besar penguatan 5 Wilayah Pengembangan Prioritas (WPP) yang dicanangkan BP Batam. “Survei hari ini adalah langkah awal untuk memotret kebutuhan nyata di lapangan. Kawasan Nagoya Heritage akan kita tata dari Harbour Bay hingga Pakuwa, dengan panjang sekitar 4,7 kilometer. Ini akan menjadi koridor wisata urban baru yang representatif bagi Batam,” jelas Mouris.
Ruang yang selama ini kurang tertata akan direvitalisasi secara menyeluruh melalui Penataan kembali jalur pedestrian dan area jalan kaki, penyediaan kantong parkir terstruktur, reposisi area UMKM dan PKL agar lebih rapi, perbaikan drainase dan infrastruktur dasar.
Selain itu, revitalisasi kios, signage, dan tata ruang depan toko, penerapan zona khusus pedestrian yang bebas dari kendaraan, hingga penataan sistem kebersihan, keamanan, dan pengelolaan kawasan.
Mouris juga menegaskan bahwa penataan tidak hanya akan memberi dampak visual, melainkan juga dampak ekonomi yang signifikan.
“Jika kawasan ini tertata, ekonomi akan tumbuh sendiri. Toko-toko akan berinovasi, pedagang mempercantik usaha mereka, dan masyarakat kembali menjadikan Nagoya sebagai destinasi utama,” tambahnya.
Pengembangan Nagoya Heritage tidak dibuat dengan pola pembiayaan tunggal. Mouris menyebut bahwa proyek ini dirancang sebagai proyek gotong royong lintas sektor.
“Semua pihak punya peran. BP Batam hadir dengan pembinaan dan penataan infrastruktur. Pemko mendukung kebijakan kawasan. Asosiasi PKL menyediakan data dan tertib lokasi. Pengusaha ikut melakukan perapian. Dan BRI kita ajak untuk memperkuat sisi UMKM,” ujarnya.
Dalam mendorong pemberdayaan ekonomi rakyat, BP Batam saat ini menjajaki kerja sama dengan Bank BRI sebagai bank yang dikenal kuat dalam pembinaan UMKM.
“Teman-teman BRI merespons sangat positif. Mereka bahkan ikut survei hari ini. Kita ingin BRI menjadi mitra yang membantu mempercantik kawasan sekaligus memberdayakan UMKM,” jelas Mouris.
Selain BRI, BP Batam juga menggandeng asosiasi PKL sebagai mitra data dan koordinator UMKM. PKL disebut memberikan dukungan penuh terhadap proyek ini.
Sebelum memasuki pekerjaan fisik skala besar, BP Batam akan menjalankan strategi crowd gather untuk menghidupkan aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.
“Menjelang Imlek dan Idulfitri, kita dorong pelaku usaha untuk menggelar kegiatan, event, dan promosi agar arus pengunjung meningkat. Ketika crowd-nya hidup, kawasan ini akan tumbuh lebih organik,” ujar Mouris.
Langkah ini mencakup festival kuliner, event budaya dan Promo UMKM. Setelah kondisi ekonomi dan kunjungan masyarakat membaik, proses penataan fisik akan berjalan bertahap tanpa mengganggu aktivitas usaha.
Survei yang dilakukan BP Batam mengidentifikasi sejumlah permasalahan dasar yang menjadi fokus pembenahan awal, di antaranya, pedestrian rusak dan tidak merata, drainase kurang optimal, Minim zebra cross di titik penyeberangan, jalur pedestrian yang diokupasi kendaraan hingga lampu jalan dan sistem keamanan yang perlu perbaikan.
Temuan ini akan dituangkan dalam rencana aksi terkoordinasi bersama seluruh stakeholder. “Survei ini untuk melihat masalah nyata secara detail. Kita turun bersama agar semua punya pemahaman yang sama. Lalu kita bergerak bersama untuk mewujudkan Nagoya Heritage,” tegas Mouris.
BP Batam menekankan bahwa proyek ini bukan proyek instan, melainkan transformasi kawasan besar yang dilakukan bertahap sepanjang 2026.
“Penataan kita lakukan sambil berjalan. Karena banyak pihak terlibat, ritme pekerjaan dibuat organik dan berlapis. Fase utama saat ini adalah membangun budaya baru bagi masyarakat Batam untuk kembali menjadikan Nagoya sebagai ruang berwisata, berkuliner, dan berbelanja,” jelasnya.
Proyek Nagoya Heritage ini diharapkan menjadi salah satu penggerak utama ekonomi kreatif dan pariwisata Kota Batam pada 2026. Dengan kolaborasi lintas sektor dan pendekatan penataan yang berkelanjutan, BP Batam optimistis kawasan ini akan menjadi destinasi kota yang tertib, modern, dan ramah masyarakat. BP Batam berkomitmen untuk memastikan seluruh proses berjalan sesuai prinsip kolaborasi, transparansi, dan keberlanjutan.***










